27 September 2021, 12:53 WIB

Ini 8 Skema Penyelamatan Waskita yang Terbelit Utang Rp93,47 Triliun


Despian Nurhidayat | Ekonomi

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) tengah memiliki liabilitas, termasuk utang, yang cukup tinggi pada tahun buku 2019 yang mencapai Rp93,47 triliun.

Untuk itu, menurut Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, sebagai upaya penyelamatan Waskita, Kementerian BUMN melakukan delapan skema penyelamatan, di antaranya proses restrukturisasi perseroan induk dan anak usaha, penjaminan pemerintah, Penyertaan Modal Negara (PMN), rights issue, divestasi aset jalan tol, penyelesaian konstruksi, transformasi bisnis, serta implementasi GCG dan manajemen risiko.

Salah satu upaya yang tengah berjalan saat ini ialah restrukturisasi menyeluruh atas Grup Waskita, recycling aset bertahap, dan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Baca juga : Rambah Bisnis Minuman, Dua Influencer Popular Luncurkan Teh Khas Jepang

"Asset recycling dilakukan secara bertahap, mulai dari 2019 sudah ada 5 ruas dan sekarang sedang menyelesaikan ruas Cibitung-Tanjung Priok yang dibeli oleh PT Pelindo," ungkapnya dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi VI DPR RI, Senin (27/9).

Lebih lanjut, menurut Tiko, beban utang Waskita ini mencapai puncaknya pada tahun 2019 setelah Waskita agresif mengakuisisi jalan tol dari pihak swasta sejak 2015 sampai 2017.

Rinciannya, utang tersebut senilai Rp70,9 triliun yang bersumber dari pinjaman bank dan obligasi dan sekitar Rp20 triliun utang kepada vendor. Terlebih lagi, kondisi pandemi covid-19 membuat perusahaan mengalami penurunan dari sisi pendapatan.

"Jadi kenapa terjadi utang ini, tahun 2019-2020 pendapatan Waskita drop, pendapatan kontruksi dan tol yang beroperasi turunnya signifikan. Ini membuat kondisi keuangan waskita mengalami pemburukan signifikan," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT