23 September 2021, 21:03 WIB

Proyek Kabel Listrik Bawah Laut Sumatera-Bangka Butuh Investasi Rp1,9 Triliun


Insi Nantika Jelita |

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menargetkan sistem kelistrikan Sumatera dan Bangka bakal terhubung kabel listrik bawah laut pada Desember 2021. Adapun biaya investasi yang dibutuhkan mencapai Rp1,9 triliun.

Dengan terhubungnya dua sistem kelistrikan tersebut, PLN dapat menghemat biaya operasi Rp1,4 triliun. Serta, menghentikan operasional lima Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sebesar 65 megawatt (MW). Hal itu berdampak pada peningkatkan efisiensi penggunaan BBM sebesar 186 juta liter.

Baca juga: Sun Cable Investasi US$2 Miliar untuk Kabel Bawah Laut di RI​​​​​​

"Untuk menghubungkan dua sistem kelistrikan ini investasinya sekitar Rp1,9 triliun," ungkap Direktur Mega Proyek dan EBT Wiluyo Kusdwiharto dalam keterangan resmi, Kamis (23/9).

Saat ini, total daya mampu pembangkit di Bangka mencapai 187,7 MW, dengan beban puncak 174,9 MW. Pulau Bangka akan mendapat tambahan pasokan listrik sekitar 109 MVA dari kabel listrik bawah laut sepanjang 36 kilometer sirkuit (kms).

Lebih lanjut, Wiluyo menjelaskan bahwa keberadaan kabel listrik akan memangkas biaya pokok produksi (BPP) di Bangka. Sebab, listrik dari pembangkit berbiaya murah di Sumatera dapat disalurkan ke Pulau Bangka.

Baca juga: Menkeu: Realisasi Pembiayaan Utang Cerminkan Konsolidasi Fiskal

Dari total kapasitas pembangkit 248 MW, pasokan listrik di Bangka masih didominasi PLTD. Dengan tersambung kabel laut, BPP Bangka bakal turun hingga 57% dari Rp2.454 per kilowatt hour (kWh) menjadi Rp1.054 per kWh.

"Potensi penghematannya sekitar Rp1,4 triliun per tahun. Semoga dengan andalnya pasokan listrik, bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Bangka dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutur Wiluyo.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT