16 September 2021, 15:20 WIB

Restrukturisasi Pertamina Kian Membuahkan Hasil


Mercy Widjaja/Metro TV | Ekonomi

RESTRUKTURISASI di tubuh PT Pertamina (Persero) membuat pembagian tugas antara induk perusahaan dan subholding menjadi lebih jelas. Hasilnya kinerja operasional semakin meningkat.

Demikian disampaikan Pengamat BUMN Universitas Indonesia Toto Pranoto menanggapi restrukturisasi PT Pertamina yang telah selesai pada awal September lalu. 

Baca juga: Beban Utang Garuda di Lessor, Erick : Silakan Ambil Pesawatnya!

"Subholding akan fokus menjalankan operasional bisnis masing-masing dan berupaya membuat proses bisnis semakin efisien. Di sisi lain, induk perusahaan lebih fokus pada pengembangan produk dan bisnis baru," kata Toto kepada Metro TV di Jakarta, Kamis (16/9/2021).

Sebagai informasi, restrukturasi dengan membentuk subholding telah dimulai sejak 2018 dengan menghadirkan subholding gas. Pembentukan 5 subholding lainnya dilakukan sejak Juni 2020 dan berhasil diselesaikan pada 1 September 2021.

Enam subholding tersebut ialah upstream, refining and petrochemical, commercial and trading, gas, integrated marine logistics, dan power and new renewable energy.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Apermigas) Moshe Rizal menambahkan, Pertamina kini menjadi semakin lincah dalam menghadapi tantangan di sektor migas yang sedang dilanda pandemi covid-19.

Saat ini, kata dia, aktivitas ekonomi melambat dan terjadi pengurangan terhadap permintaan minyak. Belum lagi harga minyak dunia yang fluktuatif.

"Saya berharap Pertamina akan menjadi perusahaan yang kompetitif di kancah global sehingga mudah menggaet partner bisnis untuk investasi sektor migas ataupun partner teknologi migas di Indonesia," imbuh Moshe. 

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir memuji restrukturisasi yang dilakukan Kementerian BUMN terhadap PT Pertamina (Persero).  

Menurut Erick, transformasi yang dilakukan itu telah mendorong efisiensi Pertamina untuk menjadi lebih baik dan membuahkan hasil yang signifikan di antaranya penemuan sumber migas baru hingga 204 juta barel.

Baca juga: Indra Karya Raih Nusantara CSR Award Melalui Program Smart Water System Management

"Selama ini kita kekurangan sumber penemuan gas dan minyak. Setelah dikonsolidasi, kita dapat temuan baru 204 juta barel. Dan yang terpenting, hulu sekarang untung US$1 miliar dolar, di atas target jauh," terang dia. 
  
Tidak hanya itu, kinerja subholding refinery and petrochemical pun mencatatkan laba sebesar US$322 juta dolar pada semester I-2021. "Petrochemical yang tadinya menjadi beban, sekarang bisa untung US$322 juta dolar," tuturnya. (Ant/A-3)

BERITA TERKAIT