15 September 2021, 23:38 WIB

Sektor Ritel dan UMKM Terus Tumbuh, Perlu Optimalisasi Lewat Teknologi dan Jiwa Wirausaha


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

SITUASI perekonomian di Indonesia memiliki dua hal yang potensial dan menonjol, yaitu pasar konsumsi dan pelaku UMKM yang sangat besar. Dengan besarnya volume pasar dan tingginya konsumsi rumah tangga, menjadikan pasar sektor ritel di Indonesia memiliki potensi yang menjanjikan untuk dieksplorasi. 

Sektor ritel terus tumbuh dan berkembang di Indonesia. Tercatat sektor ritel bertumbuh sekitar 8% setiap tahunnya. Dari total 800 miliar dollar AS, nilai pasar ritel di Asia, Indonesia menghasilkan sebesar 300 miliar dollar AS dan 70-80% nilai tersebut bersumber dari pengecer tradisional. 

Peningkatan pertumbuhan ritel tradisional pun diperkirakan bertumbuh sebanyak 120% selama empat hingga lima tahun mendatang. Meski pasar sektor ritel di Indonesia memiliki potensi yang luas untuk dieksplorasi, para pelaku usaha menghadapi tantangan yang tidak bisa diabaikan, yaitu transformasi ritel.

Co-Founder dan CCO Ula Derry Sakti mengatakan, tantangan transformasi ritel di Indonesia mengubah habit masyarakat luas yang sejak dahulu terbiasa melakukan jual beli di pasar tradisional atau offline. Kebutuhan transformasi inilah yang menarik pemain B2B e-commerce bermunculan untuk melayani kebutuhan konsumsi rumah tangga yang masih bertumpu pada offline. 

"Salah satunya adalah Ula, startup e-commerce berbasis di Indonesia yang berfokus pada transformasi UMKM melalui teknologi. Ula menawarkan kemudahan dalam transaksi secara digital, dan layanan yang tersedia di aplikasi. Seperti mendigitalisasi struktur rantai pasok, memudahkan pengelolaan stok, dan manajemen keuangan untuk UMKM," katanya dalam webinar Exploring Immense Opportunities in Indonesia’s Retail Market & SME’S yang digelar Diplomat Success Challenge (DSC) dan Markplus Institute. 

Menurut Derry, dengan semakin banyak pelaku ritel offline bertransformasi mengadopsi teknologi melalui aplikasi Ula, pelaku ritel offline mampu meningkatkan produktivitas hingga 117%, dan mampu meningkatkan pendapatan hingga 165%. Digitalisasi bukan lagi hal yang mewah, melainkan kebutuhan hal untuk berkembang bagi pelaku UMKM.  

“Karena potensinya yang luar biasa tinggi dan juga transformasi yang belum optimal,  banyak investor baru berinvestasi di bisnis startup B2B e-commerce. Sehingga ini menjadi peluang besar bagi calon wirausaha memulai  bisnis maupun wirausaha untuk mengoptimalkan pasar sektor ritel.” jelas Derry

Meski pasar sektor ritel di Indonesia memiliki potensi yang menjanjikan untuk dieksplorasi, pelaku UMKM di Indonesia pun harus menjadi key player di pasar negeri sendiri. Ansari Kadir yang telah sukses mengembangkan bisnis Sang Pisang  hingga memiliki lebih dari 70 outlet tersebar di Indonesia dan Malaysia, memberikan masukan kepada wirausaha yang ingin bersaing di pasar sektor ritel, 

Baca juga : Pemprov Papua Harapkan UMKM Tumbuh Usai PON XX

Di era keterbukaan pasar melalui perjanjian dagang dan keterbukaan pada platform digital, penting bagi wirausaha dan pelaku UMKM memahami pivot bisnisnya seperti apa. Sehingga meski dilanda persaingan, mereka bisa mewujudkan bisnis yang menyatukan tiga prinsip penting, yaitu profit, growth dan sustain.

Co-Founder Sang Pisang & Ternakopi & CMO GK Hebat Ansari Kadirmendorong para pelaku UMKM yang bergerak di sektor ritel, untuk terus meningkatkan kualitasnya, agar tidak tertinggal dibandingkan negara tetangga lainnya seperti Malaysia dan Thailand. Kuncinya adalah fokus akan adaptasi teknologi.  

Selain fokus adaptasi teknologi, pelaku UMKM membutuhkan pendampingan serta jaringan ekosistem untuk berkolaborasi sehingga mampu menjadi key player dalam memanfaatkan potensi sektor ritel. Alumni Diplomat Succes Challenge 2018 Bayu Mahendra Saubig merasakan manfaat mentorship saat mengikuti DSC dan bergabung dengan Diplomat Entrepreneur Network (DEN). 

Saat memulai bisnis pada 2017, Tumbasin  semula hanya melalui layanan whatsApp dan media sosial. Lalu setelah mengikuti DSC, ia mendapatkan masukan untuk segera bertransformasi digital. Setahun kemudian, Tumbasin bertransformasi menjadi aplikasi yang melayani belanja kebutuhan pokok dari pasar tradisional. 

Bahkan lewat mentorship dan DEN, ia mendapatkan input ketika Tumbasin berencana untuk ekspansi ke berbagai kota di luar pulau Jawa. Sehingga transformasi bisnis Tumbasin  bukan hanya mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhan pokok saja, tetapi juga membantu menghidupkan perekonomian pedagang pasar tradisional agar tetap bisa bersaing dengan pasar modern.

Perjalanan Bayu Mahendra Saubig mewujudkan Tumbasin berawal dari proposal yang diajukan ke DSC 2018. Bermula dari layanan whatsApp dan media sosial, setahun kemudian Tumbasin hadir dalam bentuk aplikasi berkat mentoring dan hibah modal usaha dari DSC

Sama seperti gebrakan bisnis Tumbasin yang dipelopori Bayu Mahendra Saubig, DSC 12 dengan tema besar “Raih Peluang Sekarang dan Bikin Gebrakan”, ingin mendorong wirausaha di Indonesia  melahirkan gebrakan dalam berbisnis. 

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, DSC 12 akan memberikan modal usaha senilai total Rp12 miliar yang berbentuk hibah. Calon peserta DSC 12 dapat mendaftarkan diri dan proposal ide bisnisnya melalui situsbdiplomatsukses.com, hingga 19 Oktober 2021. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT