14 September 2021, 21:35 WIB

Generasi Muda Berperan Penting untuk Bantu UMKM Go Digital


Budi Ernanto | Ekonomi

SELAMA pandemi covid-19, UMKM menjadi sektor yang sangat terpukul. Para pelaku usaha UMKM harus merasakan omzet mereka berkurang signifikan.

Walau UMKM pernah merasakan musibah itu ketika krisis 1998, namun pandemi memberi dampak buruk yang lebih parah. Pasalnya, UMKM lebih mengandalkan transaksi tatap muka. Sementara di akhir Orde Baru, tidak ada pembatasan aktivitas.

Karena itu lah menurut Ketua Dewan Pengurus Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) Yudho Giri Sucahyo, dibutuhkan peran generasi muda untuk bisa menolong UMKM agar bisa bertahan di saat sulit seperti sekarang.

"Generasi muda bisa hubungkan pembeli dengan penjual. Pandemi ini masih panjang, kita harus terbiasa dengan pembatasan fisik," kata Yudho dalam webinar daring bertema Peran Generasi Muda dan Teknologi Dalam Pemberdayaan UMKM di Masa Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan Pandi, Selasa (14/9).

Yudho menambahkan pelaku UMKM perlu memanfaatkan teknologi digital untuk bisa masuk ke platform penjualan online agar bisa bertahan.

"Ini saatnya sinergi. Mereka bisa bergabung ke marketplace, bisa juga gunakan domain .id yang memiliki keuntungan nama situs mudah dieja dan diingat serta singkat. Domain bisa dibeli di beberapa registrar," kata Yudho.

Namun, kendala ketika ingin berjualan secara daring ialah ketersediaan infrastruktur belum merata. "Tidak masalah di kota besar, tapi di daerah lain belum," kata Yudho.

Sementara Sekjen BPP AKU Iyuk Wahyudi mengatakan omzet pelaku UMKM bisa berkurang sampai 80% saat pandemi. Disebutkan olehnya, memang pemerintah memberikan stimulus, tapi tidak terlalu berdampak.

Baca juga: Manfaatkan Cloud, Startup Berdayakan UMKM di Indonesia

"UMKM tetap merasa tidak tersentuh karena soal akses informasi. Mereka perlu juga pendampingan. Jangan bayangkan UMKM seperti organisasi yang sudah besar," kata Iyuk.

Senada dengan Yudho, kolaborasi menjadi kunci untuk menyelamatkan UMKM. UMKM menurut Iyuk mungkin tidak awas dengan informasi, tapi pasti ada yang bisa membantu mereka untuk mengaksesnya. "Nah, posisi BBP AKU sebagai jembatan (UMKM) ke pihak terkait," terang Iyuk.

Dalam diskusi, juga hadir pelaku UMKM Yuli Indarti. Dia juga terkena dampak dari pandemi dan telah berusaha untuk bisa bertahan. Yuli yang berbisnis di bidang kuliner mengatakan berbagai kesulitan telah dihadapi selama pandemi.

Khususnya ketika memenuhi permintaan konsumen, namun lokasinya jauh. Akibatnya, biaya pengiriman menjadi mahal dan cenderung membuat konsumen membatalkan pesanan.

Di sisi lain, Yuli sendiri mengaku sudah memanfaatkan platform online dan merasakan manfaatnya.

Sementara Satria Kenvaleriano Syahputra selaku pegiat pemberdayaan UMKM memiliki tips yang bisa dicoba. "Promosi bisa melalui konsep mulut ke mulut, bisa juga melalui media sosial. Saya sendiri membantu memberikan review, jadi mereka yang awalnya tidak tahu (produk tertentu) jadi tahu," kata Satria. (R-3)

BERITA TERKAIT