14 September 2021, 15:06 WIB

Rupiah Terdepresiasi 1,52% Sejak Awal Tahun


Fetry Wuryasti | Ekonomi

NILAI tukar rupiah sepanjang semester I 2021 relatif terkendali dan stabil. Hal itu diungkapkan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti,

Sebelumnya, rupiah sempat tertekan pada kuartal I 2021 akibat meningkatnya imbal hasil Amerika Serikat (yield US Treasury) dan menguatnya dolar AS.

Rupiah kembali menguat sejak pertengahan april 2021, yang ditopang stabilisasi oleh Bank Indonesia. Serta, aliran modal asing masuk ke pasar uang domestik pada kuartal II 2021. Nilai tukar semester I 2021 point to point tercatat depresiasi 3,1% (ytd), jika dibandingkan level akhir 2020.

Baca juga: Baru 3,4 Juta Pekerja Terima Subsidi Upah

Level ini relatif lebih rendah tingkat depresiasinya dibandingkan negara lain, seperti Turki, Thailand dan Korea Selatan. Penguatan nilai tukar rupiah terus berlanjut hingga akhir Agustus 2021, yakni sebesar 1,62% point to point, dibandingkan Juni 2021.

"Sehingga keseluruhan, rupiah mengalami depresiasi 1,52% (ytd). Ini lebih rendah depresiasinya dari sejumlah negara berkembang lainnya," jelas Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Selasa (14/9).

Adapun inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat tetap rendah hingga Juni 2021, yakni 1,33% (yoy). Lalu, berlanjut di Agustus tercatat sebesar 1,59% (yoy).

Baca juga: Kerja Sama Transaksi dalam Rupiah-Yen Diperkuat

Rendahnya inflasi sejalan dengan masih terbatasnya permintaan domestik dan terjaganya stabilitas nilai tukar. Serta, konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi pada kisaran target. 

Lalu, kuatnya koordinasi kebijakan Bank Sentral dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) dan TPI Daerah.

"Kami berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memoerkuat koordinasi kebijakan guna menjaga inflasi IHK sesuai sasaran yang telah ditetapkan, yaitu 3% plus minus 1% pada 2021," ujar Destry.(OL-11)

BERITA TERKAIT