13 September 2021, 21:50 WIB

Harga Emas Diperkirakan Naik, Lonjakan Laba Antam bakal Berlanjut


Mediaindonesia.com | Ekonomi

PENGAMAT menilai lonjakan laba kotor PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada triwulan pertama 2021 sebesar Rp1,63 triliun atau tumbuh 189% dari capaian laba kotor pada waktu yang sama di tahun lalu sebesar Rp561,82 miliar merupakan sesuatu yang telah diperkirakan. Alasan utamanya, harga emas di pasaran yang naik terus.

"Kenaikan laba yang sangat masif tersebut tidak mengejutkan apabila berkaca pada kenaikan tren investasi emas. Harga emas yang relatif stabil dan cenderung naik membuat emas menjadi pilihan masyarakat luas dalam menyikapi kondisi ekonomi yang tidak menentu," kata Lukman Hqeem, Analis Pasar dari Esandar Arthamas pada Senin (13/9).

Dia melanjutkan, dampak krisis ekonomi global semakin diperparah dengan pandemi covid-19 yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini membuat masyarakat waswas dengan aset mereka. Untuk melakukan lindung nilai, tak heran pilihannya yaitu mengakumulasi pembelian fisik emas, dalam hal ini logam mulia. Tren ini bisa dikatakan terus naik dari waktu ke waktu dalam masa pandemi. Ini tentu menjadi berkah bagi perusahaan yang sumber utama pendapatannya dari produk logam mulia. 

"Ke depan, dengan tren harga emas dunia yang masih diyakini akan naik setidaknya pada harga US$1.900 per troy ons pada akhir tahun ini atau semester pertama 2022, potensi pendapatan Antam masih akan sangat positif. Saham Antam masih akan menjadi tujuan investasi menarik bagi investor baik untuk tujuan jangka pendek dan jangka panjang," jelasnya.

Di sisi lain, potensi kenaikan harga logam dunia juga bisa menjadi pertimbangan bahwa produk-produk Antam akan semakin besar kontribusinya bagi pendapatan perusahaan. Ditambah dengan vaksinasi yang sudah banyak dilakukan, hal ini mulai terlihat menggerakkan perekonomian global. 

"Sebagian industri sudah mulai beroperasi. Ini berarti akan ada potensi peningkatan permintaan bahan baku termasuk sejumlah logam yang selama ini menjadi produk Antam. Oleh sebab itu, potensi pendapatan perusahaan di semester kedua dan kuartal ketiga atau empat, masih sangat positif," paparnya.

Seperti diketahui beberapa waktu lalu saat public expose pada 9 September 2021, ANTM melaporkan lonjakan kinerja keuangan yang solid. Ini tercermin dari capaian Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) pada kuartal satu tahun ini sebesar Rp1,24 triliun. 

Angka itu meningkat signifikan dibandingkan capaian EBITDA pada triwulan pertama 2020 sebesar Rp34,13 miliar atau tumbuh 36 kali. Pertumbuhan EBITDA yang positif terutama didukung oleh kinerja operasi dan penjualan komoditas utama ANTM yang solid serta peningkatan efisiensi biaya, sehingga tercapai biaya tunai operasi yang optimal.

"Sementara itu capaian laba usaha perusahaan pada kuartal satu 2021 tercatat sebesar Rp793,89 miliar, melonjak 477% dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp137,54 miliar. Faktor pendukung tercapainya peningkatan ini yaitu pertumbuhan tingkat penjualan serta pengelolaan biaya beban pokok penjualan dan usaha yang optimal. Pertumbuhan positif laba kotor dan laba usaha mendukung capaian laba tahun berjalan kuartal pertama Antam sebesar Rp630,38 miliar, naik dari rugi tahun sebelumnya sebesar Rp281,84 miliar," kata sekretaris perusahaan Antam, Yulan Kustiyan.

Implementasi strategi operasional yang tepat tercermin pada posisi arus kas bersih perusahaan yang diperoleh dari aktivitas operasi pada kuartal pertama sebesar Rp1,88 triliun, tumbuh signifikan YoY sebesar Rp18,87 miliar. Pertumbuhan arus kas bersih dari aktivitas operasi tersebut memperkokoh perolehan kenaikan bersih arus kas dan setara kas ANTM pada kuartal pertama yang mencapai Rp1,26 triliun, meningkat YoY sebesar Rp546,16 miliar, sehingga memperkokoh struktur keuangan ANTM yang tercermin dari saldo kas dan setara kas pada kuartal pertama 2021 sebesar Rp5,33 triliun. 

"Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berinvestasi emas serta pertumbuhan permintaan emas di pasar domestik, Antam berfokus dalam pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri," papar Yulan. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT