07 September 2021, 08:55 WIB

Melesat US$19, Harga Acuan Batu Bara Indonesia Tembus US$150 per Ton


Mediaindonesia.com | Ekonomi

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan, akibat permintaan batu bara yang terus meningkat di Tiongkok, berhasil mendongkrak Harga Batu bara Acuan (HBA) dalam negeri. Pada September ini HBA berada di angka US$150,03 per ton.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi menyebut, angka HBA ini dilaporkan meningkat US$19,04 per ton dibanding HBA pada Agustus 2021 yang mencapai US$130,99 per ton.

"Ini adalah angka yang cukup fenomenal dalam dekade terakhir. Permintaan Tiongkok yang tinggi melebihi kemampuan produksi domestiknya serta meningkatnya permintaan batu bara dari Korea Selatan dan kawasan Eropa, melambungkan HBA ke angka US$150,03 per ton," tuturnya dalam keterangan resmi, Selasa (7/9).

Menurut Agung, faktor-faktor tersebut di atas telah mendorong harga batubara global ikut terimbas naik dan mencatatkan rekor dari bulan ke bulan.

Sempat melandai pada Februari-April 2021, HBA dalam negeri mencatatkan kenaikan beruntun pada periode Mei-Juli 2021 hingga menyentuh angka US$115,35 per ton di Juli 2021. Kenaikan tersebut dinilai ESDM terus konsisten hingga September dengan mencatatkan rekor tertinggi baru.

Sebagai informasi, HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.

ESDM menjelaskan, terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand.

Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season  (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro. (Ins/E-1)

BERITA TERKAIT