03 September 2021, 19:28 WIB

Penawaran Umum Saham GTSI Masuki Hari Kedua


Mediaindonesia.com | Ekonomi

PT GTS Internasional Tbk (GTSI) memasuki hari kedua penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Bertindak sebagai penjamin tunggal pelaksana emisi saham (sole underwriter) dalam rangka 
pelaksanaan IPO perusahaan pertama di bidang pengangkutan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di Indonesia dan kini menjadi perusahaan infrastruktur dan logistik tersebut ialah PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk. 

Penawaran saham kepada masyarakat akan berakhir Senin 6 September 2021. Sebagaimana diberitakan sebelumnya GTSI melakukan IPO sebanyak 2.400.000.000 saham biasa atas nama atau 15,17% dari jumlah seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh GTSI setelah IPO. 

Saham perusahaan ditawarkan dengan harga Rp100. Harga penawaran tersebut berada pada kisaran P/E 6x ditetapkan dengan maksud agar lebih banyak masyarakat yang dapat ikut serta dalam proses IPO ini dan memiliki saham berfundamental solid pada valuasi harga yang terjangkau. Penawaran saham itu pun mendapat respons positif dari masyarakat. 

"Sejak masa penawaran awal (book building) pad 20 Agustus 2021 hingga saat ini kami mencatat saham yang dipesan sudah melebihi jumlah yang ditawarkan (oversubscribe) hampir dua kali. Seluruh saham yang dikeluarkan dari IPO tersebut dan sebelum IPO sejumlah 13.419.142.767 saham mecapai 15.819.142.767 saham akan dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia," ungkap Wilson Sofan, Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia, dalam keterangan resmi, Jumat (3/9). 

GTSI berpengalaman selama 30 tahun memasok LNG sebagai sumber energi listrik ramah lingkungan yang  berkelanjutan. Ke depan perusahaan membangun ekosistem rantai pasokan LNG dengan mengakuisisi perusahaan terafiliasi yang akan memberikan sinergi terhadap keberlangsungan usaha  perusahaan. Untuk pendapatan usaha berkelanjutan, GTSI juga berencana memperpanjang kontrak Ekaputra-1 untuk jangka panjang dengan rencana kontrak sewa Time Charter kapal LNG untuk periode Januari 2022 hingga Desember 2022 sebagai kapal pengangkut LNG. 

Setelah Desember 2022, perpanjangan kontrak sewa LNG diasumsikan diperpanjang sewa selama lima tahun ke  depan, kemudian melakukan konversi LNGC menjadi (floating storage and regasification unit/FSRU). Saat  ini anak perusahaan GTSI juga telah memperoleh kontrak 15 tahun untuk proyek yang sudah dimenangkan dan sudah COD dan masuk dalam tahap pembangunan permanen FSRU.   

GTSI adalah pelopor dalam mengoperasikan dan menyalurkan logistik LNG dan infrastruktur FSRU yaitu kapal penyimpanan dan  regasifikasi terapung, infrastruktur utama dalam penyediaan LNG sebagai sumber clean energy pembangkit listrik. Karenanya masyarakat di pelosok Indonesia akan terus semakin mudah memperoleh energi listrik untuk kebutuhan sehari-hari mereka sehingga akan membantu menjamin ketersediaan udara yang bersih sampai dengan generasi penerus.

Baca juga: Utang Garuda ke Perusahaan BUMN Capai Rp 600 Miliar Lebih 

Dalam menghadapi tantangan penyaluran gas bumi ke lokasi pembangkit listrik serta pengguna akhir lain yang tersebar di  seluruh Indonesia dan tidak terhubung dengan jaringan pipa gas, GTSI melakukan penyaluran LNG melalui alat transportasi laut dengan tetap menjaga efisiensi biaya. Selain distribusi logistik, LNG juga membutuhkan infrastruktur penyimpanan dan regasifikasi untuk dapat dimanfaatkan oleh pembangkit listrik dan industri. (OL-14)

BERITA TERKAIT