01 September 2021, 10:33 WIB

Pelaku Pasar Cermati Rilis Data Ekonomi dan Pelaksanaan PPKM


Fetry Wuryasti |

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (1/9) dibuka pada level 6.157,82, dari penutupan kemarin di level 6.150,29. Pergerakan masih dibayangi aksi profit taking.

Secara teknikal indeks mengindikasikan potensi terkoreksi. Investor masih akan mencermati perkembangan terkait kebijakan Tapering di Amerika Serikat serta kasus Covid-19 serta Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang resmi diperpanjang, meskipun terlihat jumlah kasus harian sudah turun cukup signifikan.

Para pelaku pasar juga akan mencermati rilis data ekonomi seperti indeks manufaktur dan inflasi yang akan dirilis hari ini atau Selasa (1/9).

Sentimen positif datang dari turunnya jumlah zona merah dari 23 kabupaten/kota menjadi tinggal 15 wilayah saja. Yield obligasi 10 tahun RI turun -0,88% mendekati level 6%.

"Berdasarkan analisa teknikal, saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dengan potensi koreksi di akhir dan di-trading-kan pada level 6.110– 6.178," kata Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma, Rabu (1/9).

Pada perdagangan semalam, bursa saham AS ditutup dengan kecenderungan melemah tipis. Indeks Dow Jones turun tipis -0,11%, S&P500 -0,13% dan Nasdaq -0,04%.

Pergerakan bursa AS merespons Indeks Barometer Bisnis Chicago yang mengukur aktivitas manufaktur bulan Agustus turun ke level 66,8 setelah bulan sebelumnya mencapai level 73,4, Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus Zona Euro yang mengalami kenaikan sebesar +3% yoy, serta PMI jasa Tiongkok yang berada di bawah level 50.

Para pelaku pasar juga menunggu data laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis akhir pekan ini. Yield obligasi 10 tahun AS terangkat +1,8% menjadi 1,31%.

Dari pasar komoditas, harga minyak tertekan setelah adanya peluang OPEC+ memulihkan produksi minyaknya. Hal tersebut membuat harga Brent turun -0,57%, WTI -1,03%. Sedangkan komoditas lain bergerak lebih positif, antara lain: batu bara +1,58%, emas +0,33% nikel +3,09%, tembaga -0,01% dan timah +0,59%.

"Dengan melandainya pergerakan bursa global, IHSG hari ini juga diperkirakan akan bergerak terbatas," kata Suria.

Perlambatan Ekonomi

Kemarin Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan adanya kekhawatiran terhadap capaian kinerja ekonomi pada kuartal III-2021. Terutama, setelah lonjakan pertumbuhan di kuartal II-2021 yang mencapai 7,07% (yoy).

"Berbagai indikator sampai triwulan II-2021 menunjukkan arah pemulihan, namun demikian, yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana capaian pada triwulan III-2021," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.

Sejumlah indikator, menunjukkan adanya perlambatan pada kuartal III-2021. Indikator tersebut diantaranya ekspor, impor, dan Purchasing Manager’s Index atau PMI. Nilai ekspor Juli 2021 mencapai US$17,70 miliar atau turun 4,53% (MoM) dari Juni 2021.

Namun, dibandingkan dengan Juli 2020, nilai ekspor naik 29,32% YoY. Selain itu, nilai impor Juli 2021 mencapai US$15,11 miliar atau turun 12,2% (mom) dibandingkan dengan Juni 2021.

Sementara dibandingkan pada bulan yang sama di 2020, impor naik mencapai 86,93% YoY. Pada sisi PMI, IHS Markit mencatat PMI Manufaktur Indonesia Juli 2021 terkontraksi menjadi 40,1 atau turun signifikan dari 53,5 pada Juni 2021.

Penurunan kinerja disebabkan oleh naiknya penyebaran kasus Covid-19 yang menyebabkan adanya PPKM Darurat pada awal Juli, lalu dilanjutkan dengan PPKM level 4. Hal tersebut mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas ekonomi dari dalam negeri.

Perlambatan juga ditunjukkan oleh PMI indeks yang berada di bawah 50, hal ini mencerminkan ekspektasi sektor industri yang mengalami perlambatan.

Sementara itu, BPS juga mencatat potensi produksi padi pada kuartal III-2021, atau lebih rendah dari produksi pada kuartal II-2021, dan kuartal III-2020.

"Produksi padi ini menjadi bagian penting karena kalau kita lihat dari share terhadap sektor pertanian kurang lebih 13%. Jadi ini akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi sektor pertanian, yang selama ini juga menjadi kontribusi pengaman untuk ekonomi dalam negeri," kata Nico. (Try/OL-09).

BERITA TERKAIT