31 August 2021, 21:18 WIB

Kinerja PT Timah Tbk di Triwiulan II 2021 Terimbas Pandemi Berkepanjangan


Rendy Ferdiansyah | Ekonomi

PRODUKSI Biji dan logam timah serta penjualan timah pada triwulan II 2021 anjlok lebih dari 50 persen. Hal ini disebabkan pandemi covid-19 yang melanda Indonesia berkepanjangan.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Timah Tbk, Wibisono  mengatakan, pada triulan kedua produksi biji Timah sebesar 11.457 Ton atau turun 54 persen, begitu pula dengan Produksi logam timah turun menjadi 11.915. Ton atau 57 persen dibandingkan priode sama tahun lalu.

"Priode yang sama tahun lalu produksi kita 25.081 ton untuk biji sedangkan logam 27.833 ton, sedangkan untuk penjualan turun 60 persen dari 31.508 ton menjadi 12.523 ton," kata Wibisono. Selasa (31/8) sembari menambahkan, Dari jumlah tersebut bijih timah laut memberikan kontribusi terbesar.

Ia menyebutkan, pandemi Covid-19 dan pembatasan yang berkepanjangan membuat operasional perusahaan tidak berjalan normal, sehingga berdampak terhadap menurunnya performa produksi, baik itu produksi bijih timah maupun logam timah.

Penurunan penjualan ini, ungkap Wibisono  menyebabkan pendapatan perusahaan turun 27% dari Rp8,03 triliun menjadi Rp5,87 triliun pada kuartal II-2021.

Meski penjualan komoditas turun, laba perusahaan sebelum bunga, pajak, dan amortasi melesat menjadi Rp1,04 triliun, tumbuh 298,8% dari periode tahun lalu sebesar Rp348 miliar.

Demikian halnya dengan arus kas operasi naik signifikan menjadi Rp2,58 triliun dari Rp620 miliar periode tahun lalu.

PT Timah Tbk memiliki rasio profitabilitas yang sehat, hal mana terlihat dari rasio GPM (Gross Profit Margin) sebesar 19%, meningkat dari triwulan II tahun 2020 sebesar 3%) dan rasio NPM (Net Profit Margin) sebesar 5%, naik dari triwulan II-2020 yang terkontraksi 5%.

Adapun rasio DER (Debt to Equity Ratio) triwulan II tahun 2021 sebesar 103%. Rasion ini berhasil menyusut dibandingkan periode akhir tahun 2020 sebesar 142%.

Sementara, hutang bank jangka pendek berhasil diturunkan dari Rp3,8 triliun pada akhir tahun 2020 menjadi Rp2,2 triliun.

Pendapatan Turun 27 Persen

Ia menambahkan, peningkatan performa perusahaan ditopang oleh naiknya harga logam timah, akibat menyusutnya penawaran di pasar serta adanya efisiensi yang terukur dari manajemen perseroan.

"Di pasar komoditas dunia, logam timah menjadi salah satu komoditas dengan performa terbaik di tahun 2021. Hal ini tentunya menjadi kontribusi positif terhadap pencapaian finansial perseroan," ujarnya.

Perolehan laba semester I tahun ini berkebalikan dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencatatkan kerugian sebesar Rp390,07 miliar.

Mengacu publikasi laporan keuangan perusahaan, TINS mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 27% dari Rp 8,03 triliun menjadi Rp5,87 triliun. Namun, perolehan EBITDA meningkat menjadi Rp1,04 triliun dari sebelumnya Rp348 miliar.

Beban pokok penjualan dan pendapatan juga turun menjadi Rp 4,74 triliun dari tahun sebelumnya Rp 7,81 triliun. Dengan demikian, emiten bersandi TINS ini mengantongi laba bruto Rp1,12 trilun dari sebelumnya Rp215,70 miliar.

Ia menyebutkan, bahwa perseroan terus berbenah memperbaiki kinerjanya selama semester pertama di tahun 2021 setelah tahun lalu terpuruk. (OL-13)

BERITA TERKAIT