30 August 2021, 14:03 WIB

Menkeu: Tahun Ini Harus Bisa Kombinasikan Rebound dan Recovery Ekonomi


Despian Nurhidayat | Ekonomi

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah saat ini memiliki tantangan yang sangat besar dalam mengadapi dampak pandemi covid-19. Salah satu tantangan terbesar itu antara lain mengkombinasikan rebound dan recovery terhadap perekonomian.

“Salah satu tantangan kita tahun ini adalah kita harus bisa mengkombinasikan antara rebound dan recovery,” ungkapnya dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XI DPR RI, Senin (30/8).

Sri Mulyani merinci, rebound dalam artian ekonomi mampu tumbuh tinggi karena pencapaian yang rendah pada kuartal sebelumnya. Hal ini dapat terlihat dari ekonomi pada kuartal II 2021 berhasil melambung tinggi hingga 7,07% (yoy) karena salah satu faktornya adalah pada kuartal II 2020 lalu mengalami kontraksi minus 5,32% (yoy).

Sementara untuk menciptakan ekonomi berkualitas, menurutnya Indonesia harus mampu rebound sekaligus recovery dalam artian motor penggerak perekonomian harus pulih dan lebih baik.

“Rebound bisa saja hanya karena basenya rendah tapi tidak menjadi translate recovery. Orang bisa rebound tanpa recovery hanya karena pick up base-nya rendah,” ujar Sri Mulyani.

Oleh sebab itu, ia menegaskan kombinasi ini harus diwujudkan mengingat kebijakan PPKM juga telah menyebabkan hampir seluruh aspek pendukung perekonomian lumpuh kembali setelah sempat mengalami perbaikan.

Baca juga : BI Paparkan 2 Risiko yang bisa Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Global

“Kuartal III 2021 kita mengalami koreksi dari berbagai indikator. Kita berharap mungkin September masih bisa mengejar karena Juli kita mengalami PPKM seluruh bulan dan Agustus sampai dua minggu,” tuturnya.

Ia pun berharap kebijakan PPKM yang mulai diturunkan levelnya terutama untuk Jawa dan Bali dari level 4 menjadi level 3 dapat secara perlahan menormalkan kembali aktivitas perekonomian masyarakat.

Untuk keseluruhan tahun, Sri Mulyani mengatakan outlook perekonomian nasional berada di kisaran 3,7% sampai 4,5% dengan catatan kuartal III terutama September mampu lebih recovery dan tumbuh normal kembali.

Jika dilihat dari komponen agregat demand, konsumsi Indonesia diperkirakan hanya akan tumbuh 2,2% sampai 2,8% karena pada kuartal II 2021 melonjak namun kuartal IV tertekan akibat PPKM.

“Kuartal IV nanti kalau Natal dan Tahun Baru biasanya cukup meningkat lagi dan seasonal. Jika covid-19 tidak mengancam kita bisa dapat full capitalizing atau memanfatkan momentum kuartal IV,” pungkas Sri Mulyani. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT