22 August 2021, 14:06 WIB

IHSG Bertahan di Level 6.000, Investor Asing Belanja Rp2,34 Triliun


Fetry Wuryasti | Ekonomi

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan lalu Jumat (20/8), berada di zona hijau dan kembali ke di level psikologis 6.000, tepatnya di level 6.030,772. Sebelumnya, indeks sempat terseret ke level 5988.

Secara keseluruhan selama sepekan, IHSG terkoreksi turun 1,77%. Begitu pula nilai kapitalisasi pasar turun 1,8% menjadi sebesar Rp7.267,791 triliun, dan rata-rata volume transaksi harian bursa juga turun 3,4 persen menjadi 22,651 miliar saham.

Rata-rata frekuensi harian bursa selama sepekan turun 7,34% menjadi 1.458.268 transaksi dari 1.573.789 transaksi pada pekan sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) juga turun 10,88% menjadi Rp13,9 triliun dari Rp15,6 triliun.

"Investor asing selama sepekan mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp2,34 triliun, sedangkan sepanjang tahun 2021 investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp20,097 triliun," kata Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Yulianto Aji Sadono, Minggu (22/8).

Pada, tepatnya Jumat (20/8), Obligasi Berkelanjutan V Tower Bersama Infrastructure Tahap I Tahun 2021 yang diterbitkan oleh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk resmi tercatat di BEI dengan nominal sebesar Rp1,2 triliun dan tingkat bunga tetap 4,25 persen per tahun dan jangka waktu 370 hari.

Hasil pemeringkatan dari PT Fitch Rating Indonesia (Fitch) untuk Obligasi ini adalah AA+(idn) (Double A plus) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bertindak sebagai Wali Amanat dalam emisi ini. Total emisi Obligasi dan Sukuk yang telah tercatat sepanjang tahun 2021 adalah 54 emisi dari 37 Perusahaan Tercatat senilai Rp56,53 triliun.

Total emisi Obligasi dan Sukuk yang tercatat di BEI sampai dengan saat ini berjumlah 469 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp423,45 triliun dan US$ 47,5 juta, serta diterbitkan oleh 125 Perusahaan Tercatat. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 156 seri dengan nilai nominal Rp4.325,01 triliun dan US$ 400 juta. Efek Beragun Aset (EBA) sebanyak 10 emisi senilai Rp6,2 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna memaparkan sampai dengan 18 Agustus 2021 telah tercatat 740 Perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia. Hingga saat ini, terdapat 27 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI.

Dari 27 perusahaan tersebut, sebanyak 13 perusahaan memiliki aset skala besar atau di atas Rp250 miliar, 10 perusahaan aset skala menengah dengan aset antara Rp50 miliar s.d. Rp250 miliar, dan 4 perusahaan aset skala kecil atau di bawah Rp50 miliar.

Untuk nilai tukar rupiah dalam perdagangan akhir pekan, ditutup melemah 50 poin di level Rp14.452 dari penutupan sebelumnya di level Rp14.402. Sedangkan untuk perdagangan minggu depan tepatnya Senin (23/8), mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun pada rentang Rp14.450-Rp14.500.

"Pasar merespon negatif terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) yang mengalami defisit walaupun pertumbuhan ekonomi di Kuartal Kedua 2021 mengalami kenaikan di 7,07 %. Namun kenaikan PDB kuartal II-2021 tidak bisa menopang kenaikan NPI," kata Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, Minggu (22/8).

Dalam rilisnya, Bank Indonesia (BI) melaporkan, NPI pada kuartal II-2021 berada di posisi defisit US$ 450 juta. Memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya yang surplus luar biasa hingga mencapai US$ 4,06 miliar. NPI terdiri dari dua pos besar yaitu transaksi berjalan (current account) serta transaksi modal dan finansial.

Transaksi berjalan menggambarkan arus masuk-keluar devisa yang datang dari ekspor-impor barang dan jasa, pendapatan primer, serta pendapatan sekunder. Keluar masuk devisa di pos ini lebih stabil ketimbang pos transaksi modal dan finansial yang cepat datang dan pergi. Sehingga current account akan memberikan dampak yang cukup besar ke pergerakan rupiah.

Baca juga : Reksadana Campuran Bisa Menjadi Pilihan di Masa Pandemi

Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang besar tidak mampu ditutup oleh pos transaksi modal dan finansial yang surplus US$ 1,92 miliar pada kuartal II-2021. Sementara transaksi berjalan mengalami defisit US$ 2,23 miliar atau 0,77% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Lebih dalam dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus US$ 1,06 miliar (0,38% PDB).

"Meski transaksi berjalan mengalami defisit dalam 2 kuartal beruntun, tetapi hal tersebut memberikan gambaran roda perekonomian dunia yang kembali berputar. Dibandingkan ketika surplus pada kuartal III dan IV-2020, saat itu roda perekonomian nyaris terhenti akibat penerapan pembatasan sosial hingga lockdown di berbagai negara," kata Ibrahim.

Secara bersamaan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap sejumlah provinsi di Indonesia masih berada di tingkat penularan tinggi di Bali dan DI Yogyakarta masuk kelompok ini. Laporan WHO tersebut tertuang dalam Situation Report-68 yang dirilis oleh WHO pada Kamis (19/8/2021). Situation report ini rutin dirilis setiap pekan oleh WHO. Ini merupakan laporan per 18 Agustus 2021.

"Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, DI Yogyakarta, Bali, dan Sulawesi Tengah tetap berada di level tertinggi penularan komunitas (CT4) dalam kasus mingguan Covid-19 per 100 ribu populasi, jumlah mingguan yang terkonfirmasi," tulis WHO dalam laporannya.

Selain itu, tingkat kematian per 100 ribu populasi masih tinggi. WHO menyarankan pembatasan tetap dilakukan dan vaksinasi Corona dipercepat.

"Kematian Covid-19 per 100.000 populasi dan proporsi hasil tes positif berkisar antara 22 sampai 57%. Implementasi lanjutan dari penanganan kesehatan masyarakat dan pembatasan sosial (PHSM) dan percepatan vaksinasi diperlukan untuk mengurangi penularan Covid-19 dan kematian di provinsi ini dan provinsi lainnya," lanjut WHO.

Lebih lanjut, WHO juga menyoroti kasus Corona yang turun tetapi dibarengi dengan penurunan jumlah tes. Jumlah orang yang dites Corona per 5-11 Agustus turun dibanding minggu sebelumnya. Selama sepekan, yakni 5-11 Agustus, Satuan Tugas (Satgas) melaporkan bahwa jumlah orang yang diuji adalah 930.513 turun dari total 1.008.665 orang diuji selama minggu sebelumnya. Pada 18 Agustus, jumlah orang yang diuji per hari telah turun menjadi 78.626. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT