19 August 2021, 19:56 WIB

BI Yakin Rencana Tapering The Fed Tidak Akan Berdampak Besar Bagi Indonesia


Despian Nurhidayat | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) meyakini bahwa rencana kebijakan pengurangan stimulus moneter (tapering) the Fed atau Bank Sentral Amerika Serikat tidak akan memberikan dampak yang besar bagi Indonesia atau seperti saat taper tantrum 2013. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, ada tiga hal yang mendasari tidak akan terjadi dampak dari tapering yang dilakukan oleh the Fed. 

"Alasan pertama, Fed itu komunikasinya jelas. Mereka sampaikan kerangka kerja kebijakannya seperti apa, perkiraan ekonomi seperti apa khususnya inflasi dan pengangguran serta rencana taperingnya dikemukakan. Tentu saja dengan demikian pasar juga semakin memahami bagaimana kerangka kerja Fed," ungkapnya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (19/8). 

Kedua, menurut Perry BI memiliki instrumen kebijakan yang cukup memadai yakni melalui kebijakan triple intervention yang terdiri dari kebijakan intervensi langsung di pasar spot melalui menjual valas untuk menahan rupiah bergerak ke bawah lebih dalam, kedua intervensi dalam pasar Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar derivative valas domestic untuk mengarahkan level rupiah di jangka menengah dan ketiga intervensi pembelian SBN yang dilepas asing (akumulasi aset SBN) untuk menjaga yield SBN dan pelemahan rupiah lebih lanjut. 

Baca juga : Dukung UMKM, BI Segera Terbitkan Kebijakan RPIM

Kebijakan triple intervention ini dikatakan untuk menjaga stabilitas rupiah, serta koordinasi juga tetap dilakukan dengan Kementerian Keuangan sehingga imbal hasil SBN akan dikelola tetap menarik bagi investor asing. 

Perry menyampaikan, US Treasury pada awal tahun sempat meningkat ke level 1,8%-1,9%. Namun, dengan kebijakan triple intervention, pelemahan rupiah dapat dijaga sehigga tidak meningkat terlalu tinggi. 

Sejalan dengan itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun juga sempat meningkat hingga 6,7%. Namun, aliran modal asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik dan yield SBN kembali turun ke level 6,3%, dan saat ini tetap stabil di lebel 6,4%. 

"Alasan ketiga tentu adalah cadangan devisa kita relatif tinggi US$ 137,4 miliar yang jauh lebih cukup untuk kita lakukan stabilitasi," pungkas Perry. (OL-7)

BERITA TERKAIT