16 August 2021, 22:53 WIB

Buruh Migran RI di Taiwan Dapat Pelatihan Keuangan dan Kewirausahan


Dero Iqbal \Mahendra | Ekonomi

KEMAMPUAN manajemen keuangan menjadi salah satu kemampuan yang wajib dimiliki oleh para buruh migran yang bekerja di luar negeri. Sebab dengan kemampuan manajemen keuangan yang baik, para buruh migran diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesejahteraannya saat kembali ketanah air setelah memiliki modal yang cukup selama merantau di luar negeri.

Untuk itu Program Studi Ilmu Manajemen S3, Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bekerja sama dengan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema  “Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga bagi Buruh Migran Indonesia di Taiwan” secara daring pada Minggu (8/8). Sebagai informasi setidaknya terdapat 260 ribu buruh migran Indonesia yang tersebar di seluruh Taiwan di sektor rumah tangga, industri, dan perkebunan. 

“Kegiatan ini harus dilaksanakan secara berkesinambungan, bahkan bila memungkinkan UNJ dapat memberikan pelatihan atau pendidikan dengan sertifikat kompetensi atau ijazah dimasa mendatang. Ini agar menjadi bekal bagi buruh migran Indonesia setelah pulang ke Indonesia,” ungkap Direktur Kerja Sama Keimigrasian Direktorat Jendral Imigrasi, Agus Widjaja dalam sambutannya sebagaimana keterangan tertulis, Senin (16/8).

Senada dengan itu, Budi Santoso, Kepala KDEI menyambut baik kegiatan ini. Ia menyebut seluruh kegiatan melibatkan seluruh elemen masyarakat akan mendapatkan dukungan, terutama yang bersifat pembekalan bagi buruh migran Indonesia agar dapat mandiri setelah kembali di Indonesia.

Dalam paparan kegiatan ‘pengelolaan keuangan rumah tangga’ yang disampaikan Destria selaku dosen fakultas Ekonomi UNJ, ia menyampaikan mengenai cara dan langkah dalam melakukan analisis keuangan keluarga serta strategi yang harus dilakukan guna mencapai kesejahteraan secara finansial. Menurut Destria salah satu hal terpenting yang harus diutamakan setelah ada sumber penghasilan adalah mengalokasikan tabungan. 

“Setelah mengalokasikan tabungan, setelah itu baru mengatur untuk pengeluaran bulanan. Investasi baru dilakukan setelah memiliki pengetahuan akan investasi,” tutur Destria yang memegang lisensi perencanaan keuangan keluarga. 

Destria juga menekankan sebelum membuat tabungan dan investasi, pelunasan hutang dan tagihan tetap menjadi prioritas utama. Ia menjelaskan bahwa jumlah hutang yang ada tidak boleh melebihi 30 persen pendapatan, bila melebihi itu merupakan ciri keuangan yang bermasalah.

Baca juga : Pemerintah Sadari Pertumbuhan Ekonomi ke Depan Bergantung Pada Penanganan Covid-19

Pemateri lainnya Agung Dharmawan Buchdadi menilai pengetahuan literasi keuangan akan inflasi, nilai tukar, dan suku bunga secara umum sudah cukup baik. Bagi para pekerja yang telah tinggal lebih dari satu tahun pengetahuan tersebut menjadi sesuatu yang tidak asing.

Meski begitu seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, mereka masih memiliki permasalahan terkait ilusi uang. Para buruh migran Indonesia masih terpengaruh dengan jumlah nominal uang bukan nilai dari uangnya tersebut.

“Ini menjadi pekerjaan bagi akademisi untuk terus menerus memberikan pengetahuan literasi keuangan ke seluruh lapisan masyarakat,” tutur Agung.

Kegiatan pelatihan ini dilakukan secara satu hari penuh secara daring, meski sebelum covid-19 selalu dilakukan secara luring. Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat UNJ sebagai pengalaman dari Tridharma ketiga perguruan Tinggi. 

Selain kegiatan ini pengamalan kegiatan Tridharma perguruan tinggi juga dilakukan dalam bentuk kolaborasi dengan Universitas-Universitas di Asia seperti kolaborasi riset, pertukaran mahasiswa, dan pertukaran Profesor. (OL-7)

BERITA TERKAIT