16 August 2021, 11:27 WIB

DPD Harap Sektor Industri dan Manufaktur Bisa Menopang Ekonomi Indonesia


Fetry Wuryasti | Ekonomi

KETUA DPD RI AA Lanyalla Mahmud Mattalitti mengapresiasi upaya dan langkah pemerintah dalam menangani pandemi covid-19. Meski begitu, dia menyebut memang masih ada kekurangan. Sebab tidak mudah menangani di sektor kesehatan dengan menjaga keseimbangan di sektor ekonomi.

Indonesia telah mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi. Meski masih didominasi belanja konsumsi yang juga ditopang belanja pemerintah dan momentum Ramadan serta Idulfitri dan Idul Adha.

"Tentu kami berharap pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh indikator Purchasing Managers Index Manufaktur Indonesia yang baik. Karena hal itu akan menunjukkan dengan terang, apakah mesin ekonomi berjalan," kata Lanyalla dalam pidato Sidang Tahunan MPR-RI di DPR, Senin (16/8).

Sebab bila industri dan manufaktur berjalan, berarti supply chain juga berjalan, kredit bank bergulir, buruh terus bekerja, dan market menyerap barang. DPD juga berharap industri yang berjalan bukan hanya didominasi industri farmasi, melainkan juga industri padat karya lainnya.

Pandemi covid-19 memberi gambaran mengetahui kelemahan fundamental negara, dan menjad titik awal pekerjaan besar bangsa ke depan. Dengan pandemi terlihat ketahanan sektor kesehatan, yang ketika terjadi ledakan korban covid-19, rumah sakit nyaris collapse, tenaga medis berguguran. Fasilitas kesehatan dan alat medis yang kekurangan, dan kualitas kesehatan masyarakat yang ternyata rentan dengan komorbid.

"Kita jadi mengetahui industri alat kesehatan masih didominasi produk impor. Sementara beberapa anak bangsa yang mencoba memproduksi sejumlah alat pendukung medis di tengah pandemi belum mendapat kepercayaan di negeri sendiri, mulai dari Ventilator sampai Vaksin Merah Putih dan Vaksin Nusantara," ucap Lanyalla.

Baca juga: Ketua DPD RI Ingatkan Percepatan Vaksinasi di Daerah Rentan Penularan

Pandemi juga memberikan gambaran sektor pendidikan dan kualitas pembelajaran ketika dihadapkan kepada pola baru, belajar dari jarak jauh atau online, termasuk kesiapan dukungan sarana dan dukungan infrastruktur di desa dan pelosok negeri. Pandemi juga memberi gambaran ketahanan sektor sosial bangsa ini. Terutama bagaimana negara hadir menjangkau masyarakat yang membutuhkan bantuan sosial.

"Penyempurnaan database terhadap penerima bantuan harus menjadi pekerjaan kita hari ini, apalagi dengan karakteristik penduduk yang memiliki mobilitas urbanisasi yang tinggi, banyaknya penduduk yang belum tersentuh akses perbankan," tutur Lanyalla.

Pandemi juga memberi pekerjaan besar untuk mengkaji ulang ketahanan ekonomi Indonesia di sektor produksi dalam negeri, mulai dari skala UKM hingga menengah besar. UMKM yang mengandalkan transaksi langsung di pasar merasakan dampak pembatasan sosial.

"Sementara marketplace melalui sejumlah unicorn masih lebih banyak diisi barang impor dan hanya menjadikan anak bangsa sebagai dropshipper dan pedagang yang membuka toko," pungkasya.(OL-5)

BERITA TERKAIT