16 August 2021, 06:20 WIB

Investasi Rp7 M untuk Pengolahan Limbah


MI |

BERLOKASI di Porong, sekitar 5 kilometer arah barat lumpur Lapindo, tepatnya di Pasuruan, Jawa Timur, PT Ambico tidak berada di kawasan pabrik, tetapi dikelilingi perkampuangan warga. 

Itulah sebabnya, perusahaan yang mempekerjakan sekitar 300-an karyawan itu bertanggungjawab agar hasil produksi pabrik porang tidak mencemari lingkungan warga sekitar. 

Untuk itu, Ambico mengolah limbah pabrik secara serius dan memiliki pengolahan limbah sendiri. Bahkan tiga tahun lalu, perusahaan yang dibidani oleh Masaharu Ishii pada 1971 itu, berinvestasi Rp7 miliar untuk pengolahan limbah besar lagi.

"Karena volume produksi kami juga meningkat, tentu limbah yang dihasilkan juga semakin banyak. Untuk itulah perlu pengolahan limbah yang lebih besar lagi," kata Presiden Direktur PT Ambico, Johan Soedjatmiko Ishii, saat diwawancarai secara virtual. 

Dengan teknologi, lanjutnya, pengolahan limbah pabrik porang bisa digunakan kembali untuk keperluan lain. Misalnya, jadi pupuk bagi pertanian atau diolah menjadi makanan bebek, serta kegunaan lainnya.

"Kami sendiri mengajarkan bahan hasil limbah porang itu digunakan lagi oleh petani sekitar pabrik. Ada yang untuk ternak. Ini tidak beracun. Hasil cuci dari umbi porang kita jadikan pupuk untuk porang, hasilnya bagus," tambahnya 

Selain itu, dalam tiga tahun terakhir ini Ambico melakukan pembinaan terhadap petani-petani agar dapat menghasilkan porang berkualitas dan bisa diterima banyak konsumen. Pihak perusahaan berusaha menanamkan sistem pendidikan antara petani lokal, memastikan mereka memiliki alat yang tepat untuk menumbuhkan dan memelihara lahan pertanian. 

"Kami terus berupaya menghasilkan porang berkualitas tinggi agar bisa bersaing dan diterima banyak negara, seperti ke Jepang dan Tiongkok," ucap Johan lagi.

Dan para petani pemasok porang juga sudah mengetahui persyaratan kualitas yang bakal diterima Ambico. Diantara mereka cukup bervariasi. Ada yang menyuplai 1000 ton per tahun, 100 ton, 40 ton, bahkan ada yang cuma satu truk.

Sedangkan untuk para karyawan, Johan mengatakan, sudah sejak dua tahun lalu mengajari bagaimana mereka harus protokol kesehatan, seperti memakai masker yang benar. Selain itu, secara berkala mereka melakukan tes antigen.

Saat ini, kata Johan, Ambico sudah me­ngantongi beberapa sertifikasi, yakni Sertifikasi JAS atau Standar Pertanian Jepang atau. Artinya, Ambico telah menerapkan pendekatan etis dan hijau berdasarkan standar Jepang dengan memperoleh sertifikasi JAS Organik  no. 1297 dan 1298, berlaku efektif sejak 2005.

Sertifikasi JAS menjamin bahwa lahan pertanian porang yang masuk ke Ambico organik, bebas bahan kimia.

Kemudian, Ambico juga dilengkapi Sertifikasi ISO, yakni ISO 9001:2015 76221/A/0001/NA/En). Lalu ada Sertifikasi MUI dan BPOM). Semua produk akhir Ambico, seperti Konnyaku dan Shirataki telah dicap dengan lisensi MUI no. 00190035950805 serta izin BPOM untuk masing-masing dari produknya.

"Pabrik kami menargetkan kedepan itu ISO 14000, agar produk yang kami hasil di­nyatakan bersih dan berkelanjutan. Ini sedang proses," kata Johan. (Ins/X-7)
 

BERITA TERKAIT