05 August 2021, 16:47 WIB

Istana: Indonesia tidak lagi Bergantung pada Konsumsi Rumah Tangga


Andhika Prasetyo | Ekonomi

PERTUMBUHAN ekonomi nasional pada kuartal kedua 2021 yang menyentuh 7,07% merupakan hasil manis dari kebijakan-kebijakan pemerintah dalam setahun terakhir.

Kolaborasi program mulai dari perlindungan sosial hingga stimulus fiskal dan moneter telah membuat Indonesia mampu keluar dari tekanan akibat pandemi covid-19.

Demikian diungkapkan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta kepada wartawan, Kamis (5/8).

Ia mengungkapkan ada banyak indikator yang menunjukkan penguatan pada kuartal kedua.

Namun, satu yang dapat dipastikan, Indonesia sekarang tidak lagi hanya bertumpu pada konsumsi rumah tangga.

"Kita tidak lagi mengandalkan kekuatan konsumsi rumah tangga tetapi beralih ke arah yang lebih produktif yakni investasi dan ekspor. Pemerintah terus berupaya menjaga momentum ini," ujar Arif.

Ia menjabarkan, secara tahunan pada kuartal kedua 2021, realisasi Investasi tumbuh sebesar 16,2%. Adapun, secara kumulatif Januari hingga Juni tahun ini, pertumbuhan realisasi investasi tercatat 10,0%.

Dari sisi neraca perdagangan, Indonesia secara konsisten mengalami surplus sejak April 2020 hingga Juni 2021.

"Untuk tahun ini saja, dari Januari sampai Juni, surplus neraca perdagangan kita sebesar US$11,86 miliar. Jika melihat struktur pertumbuhan pada kuartal kedua, Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) dan ekspor memiliki kontribusi yang baik kepada perekonomian nasional," ucapnya.

Beralih ke kinerja serapan anggaran, pemerintah hingga akhir semester pertama 2021 telah membelanjakan APBN sebesar Rp1.170,13 triliun atau 42,55% dari total belanja negara.

Baca juga : Ekonom Chatib Basri Usul Penerima BLT Harus Sudah Divaksin Covid-19

Realisasi tersebut, sambung Arif, naik 9,38% jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2020.

Satu indikator lainnya yang juga menunjukkan kinerja positif adalah indeks keyakinan konsumen (IKK) yang meningkat dari 88 di kuartal pertama menjadi 104,4 di kuartal kedua.

"Jika seluruh indikator baik itu bisa dipertahankan dan ditingkatkan, ia optimistis perekonomian nasional akan semakin kuat," paparnya.

Pada periode ini, pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra juga telah masuk ke fase ekspansif seperti Amerika Serikat yang tumbuh 12,2%, Tuongkok yang naik China 7,9% dan Korea Selatan mencatatkan 5,9%.

Oleh karena itu, ke depannya, kegiatan perekonomian di dalam negeri harus terus dikonsolidasikan untuk dapat merebut peluang dari pemulihan ekonomi global.

Kendati perekonomian Indonesia dan dunia sudah berangsur pulih, Arif meminta seluruh pihak terutama untuk tetap waspada dan hati-hati karena pandemi belum selesai.

Masih ada varian baru covid-19 yang sangat mungkin kembali menjangkiti berbagai negara hingga akhirnya kembali mengancam kondisi kesehatan dan ekonomi.

"Seluruh pihak tetap harus bergotong-royong menghadapi berbagai persoalan yang masih mungkin terjadi agar ekonomi Indonesia semakin tangguh dan tetap tumbuh," pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT