04 August 2021, 21:49 WIB

Kegagalan UKM dalam Menjalani Transformasi Digital


Mediaindonesia.com | Ekonomi

USAHA kecil dan menengah (UKM) yang menjalani transformasi digital di Indonesia meningkat dalam kurun waktu 3 hingga 5 tahun. UKM kini semakin terbuka untuk berinovasi dan mencoba cara kerja baru dengan memanfaatkan teknologi.

Namun, kurangnya pemahaman dalam teknologi, aplikasi, dan penggunannya untuk membantu bisnis mencapai tujuannya, sering kali menyebabkan pembelian alat-alat atau solusi yang tidak perlu. UKM lebih suka mengambil pendekatan jangka pendek dengan memperoleh alat-alat dan solusi yang tidak menyediakan kebutuhan spesifik organisasi. Tingkat kegagalan yang tinggi dari pendekatan semacam itu menyebabkan antusiasme awal melemah dan skeptisisme terhadap transformasi digital pun tumbuh.

Transformasi digital merupakan penerapan teknologi digital dalam segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk bisnis. Dengan data yang terkumpul dan strategi digital yang tepat, bisnis dapat mewujudkan produk dan layanan menurut selera konsumen, mengurangi biaya pengeluaran yang berlebihan, serta meningkatkan aliran pendapatan. Kejelasan dalam tujuan bisnis, teknologi, dan aplikasi akan membantu UKM fokus pada inti bisnis dan semakin maju dalam memperoleh bekal, keahlian, serta mengidentifikasi teknologi dan alat-alat baru yang diperlukan.

Menurut pendiri dan CEO Casugol, Dwayne Ong, UKM di Indonesia harus terlebih dahulu melihat kembali model bisnisnya dan merancang secara jelas yang ingin dicapai terkait dengan transformasi digital. Para pemilik atau pemimpin bisnis UKM perlu meningkatkan keterampilan literasi digitalnya agar dapat mengidentifikasi sumber daya yang tepat untuk mencapai tujuan transformasi digital.

"Para pekerja UKM harus berpengalaman dalam analisis data, keamanan siber, pemprograman, dan keterampilan literasi digital. Selain keterampilan teknis, calon pekerja juga perlu mengembangkan soft skills seperti kepemimpinan, kognitif, komunikasi, negosiasi, dan customer service," imbuhnya dalam keterangan resmi, Rabu (4/8). Untuk itu, Casugol menyediakan program sertifikasi profesional dan executive workshops tentang transformasi digital dan teknologi baru. Dengan kantor pusat yang berbasis di Singapura dan telah hadir di 38 negara berbeda termasuk Indonesia, Casugol mengadakan pelatihan dan konsultasi transformasi digital di seluruh dunia di ruang kelas dan secara online.

Dwayne menyatakan bahwa pihaknya telah mensertifikasi dan melatih lebih dari 982 peserta dari Indonesia. Beberapa peserta terbang langsung ke Singapura untuk mengikuti kelas umum. Berbagai organisasi telah terbantu untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan penting yang diperlukan untuk perjalanan transformasi digital yang sukses.

Baca juga: Industri Sawit Buka Lapangan Kerja bagi 6,2 Juta Petani 

"Untuk memastikan kualitas tinggi dari program sertifikasi atau executive workshops kami, semua program didukung oleh para anggota International Advisory Committee (IAC) yang terdiri dari para pemimpin industri, ahli materi pelajaran, dan akademisi terkemuka di seluruh dunia," papar Dwayne. Berdasarkan data hingga 31 Januari 2021, lebih dari 8.000 profesional di  seluruh dunia dari lembaga pemerintah, dewan hukum, PMN, UKM, dan lembaga pendidikan telah disertifikasi dan dididik oleh Casugol. (OL-14)

BERITA TERKAIT