02 August 2021, 23:50 WIB

Luhut: Penanganan Pandemi Bertumpu pada Masukan Epidemolog


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, pemerintah akan bertumpu pada tiga pilar dalam penanganan covid-19. Hal itu merujuk dari berbagai masukan ahli serta epidemolog di Indonesia.

"Pertama, peningkatan cakupan secara cepat terutama pada wilayah-wilayah yang menjadi pusat mobilitas dan kegiatan ekonomi. Saat ini kami sedang meningkatkan jumlah vaksinasi harian," kata Luhut dalam konferensi pers secara virtual, Senin (2/8).

"Jadi target kita adalah pengendalian pandemi covid-19. Angka reproduksi covid-19 adalah rerata jumlah kasus yang baru ditularkan setiap orang terinfeksi, pada masa infeksus 10-14 hari merupakan perhitungan dari seberapa mudah virus dapat ditularkan durasi/lama kontak antara sumber dengan populasi masyarakat rentan," sambungnya.

Pilar kedua ialah melalui upaya pengurangan durasi kontak masyarakat. Dalam hal ini, kata Luhut, pemerintah menerapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level III dan IV di sejumlah wilayah.

Ketiga yaitu percepatan vaksinasi untuk membentuk kekebalan kelompok atau imunitas komunal. Luhut bilang, untuk mendukung tiga pilar tersebut, penerapan protokol kesehatan secara ketat perlu dilakukan seluruh masyarakat.

"Rekomendasi kita itu sekarang adalah pertama, kita lihat 3M yang patuh, ini semua kerjaan kita, seluruh masyarakat harus patuh pada ini. lalu 3T yang tinggi, ini kerja sama pemerintah dengan masyarakat, komunitas terkecil di tengah masyarakat harus terlibat. Kami berbicara dengan sosiolog dan sangat mengingatkan hal ini. Kemudian vaksinasi tinggi, dan kita bisa mengendalikan pandemi," jelas Luhut.

Menyoal vaksinasi, dia menyampaikan, pada Agustus dan September 2021 Indonesia akan mendatangkan 60 juta hingga 70 juta vaksin. Jumlah itu diharapkan membuat pandemi kian terkendali dan limitasi mobilitas masyarakat dapat dikendurkan.

"Agustus ini tahap penting untuk kita memanfaatkan, meningkatkann cakupan vaksinasi. Presiden memerintahkan kami untuk melakukan langkah-langkah ini dengan sebaik-baiknya dan sedetil-detilnya. Agar September bisa mulai dilakukan pembukaan secara bertahap. Kita berharap, dan bergantung pada mingguan, mungkin secara bertahap mungkin ada juga nanti yang akan kita buka," kata Luhut.

Di kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, pihaknya akan berfokus pada peningkatan jumlah testing. Sebab, jumlah testing amat menentukan dalam upaya pengendalian pandemi.

"Kami akan konsentrasi untuk mereplikasi apa yang sudah dilakukan di Jawa-Bali, pada saat ada kenaikan pandemi yang besar di luar Jawa-Bali," kata dia.

"Kita memahami sudah ada penurunan kasus aktif di Jawa-Bali. Tapi kita harus tetap waspada, karena kita sama sekali tidak tahu perilaku dari virus ini. memang populasi di Jawa-Bali lebih kecil, jadi jumlah agregat nasional menurun, tapi kompleksitasnya akan semakin besar karena jangkuan dan pulau berbeda-beda," sambungnya.

Lebih lanjut, Budi bilang, tantangan vaksinasi pada Agustus dan September akan lebih berat ketimbang yang sudah dilakukan. Sebab, dalam satu hari vaksin harus diberikan kepada 1,2 juta orang di tujuh wilayah aglomerasi Jawa-Bali.

Tujuh wilayah itu meliputi Jabodetabek, Bandung Raya, Solo Raya, Daerah Istimewa Yogyakarta, Malang Raya, Surabaya Raya, dan Bali. "Itu daerah yang kasus aktifnya paling tinggi dan kematiannya paling tinggi. Kita melakukan vaksinasi berbasis risiko, daerah itu yang kita sasar duluan untuk mengurangi tekanan penularan dan kematian," kata Budi.

"Ini kan hampir 4 kali lipat dari apa yang kita peroleh di Januari-Juli. Jadi ini membutuhkan peningkatan yang sangat pesat dari sisi vaksinasi di seluruh daerah-daerah," pungkasnya. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT