01 August 2021, 17:58 WIB

Maybank Indonesia Catat Laba Sebelum Pajak Rp762 Miliar di Semester Pertama 2021


mediaindonesia.com | Ekonomi

PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (Maybank Indonesia atau Bank), Jumat (30/7), mengumumkan Laporan Keuangan Konsolidasian pada semester pertama  yang berakhir 30 Juni 2021 dengan laba sebelum pajak (PBT) tercatat sebesar Rp762 miliar, turun 28,5% dari Rp1,1 triliun pada periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Sementara, laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) tercatat sebesar Rp510 miliar pada semester pertama 2021, turun 37% dari Rp810 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh dampak pandemi Covid-19 yang berkelanjutan sejak kuartal pertama 2020. 

Net Interest Income (NII), atau Pendapatan Bunga Bersih turun 12,1% menjadi Rp3,5 triliun seiring dengan penurunan penyaluran kredit dan yield kredit. Hal ini sejalan dengan penurunan BI Rate dan dampak proses restrukturisasi kredit yang sedang berlangsung bagi nasabah yang terdampak pandemi.

Net Interest Margin (NIM), atau Marjin Bunga Bersih turun 54 basis poin menjadi 4,47% pada Juni 2021, dibandingkan 5,01% pada periode yang sama tahun lalu. Namun, NIM meningkat 12 basis poin dibandingkan kuartal pertama 2021 yang tercatat sebesar 4,35%, didukung oleh biaya bunga yang membaik.   

Fee-based income turun 19,6% menjadi Rp952 miliar di semester pertama 2021, akibat menurunnya pendapatan fee dari transaksi Global Market, namun fee terkait Bancassurance bertumbuh 79,0% menjadi Rp106 miliar. Secara kuartalan, pendapatan fee tumbuh 10% menjadi Rp498 miliar di kuartal kedua 2021 dari Rp453 miliar di kuartal pertama 2021.

Turunnya pendapatan bunga kredit dan fee-based income akibat pandemi yang masih berlangsung dapat diimbangi oleh berbagai upaya Bank, diantaranya menekan biaya provisi, biaya kredit (credit cost) dan biaya overhead. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Bank secara proaktif mengambil langkah konservatif untuk mencadangkan provisi pada portofolio di seluruh segmen bisnis, khususnya di tengah kondisi yang menantang.

Langkah ini memberikan kontribusi pada penurunan biaya provisi Bank sebesar 21,6% menjadi Rp763 miliar dari Rp1,01 triliun. Selain itu, Bank terus memantau dan mendampingi nasabah yang sedang menghadapi tantangan.

Bank juga mempertahankan risk posture pada tingkat yang memadai untuk menjaga kualitas asetnya, sehingga Bank dapat mencatat rasio NPL (Konsolidasian) yang membaik menjadi 4,4% (gross) pada Juni 2021 dibandingkan 5,0% (gross) pada periode yang sama tahun lalu. 

Bank berhasil mengendalikan biaya overhead, yang tercatat turun 6,1% menjadi Rp2,9 triliun, didukung oleh upaya berkelanjutan terhadap pengelolaan biaya di seluruh organisasi, termasuk penerapan work from home selama pandemi. 

Seiring dengan kondisi pasar saat ini, di mana industri perbankan menghadapi perlambatan dalam pertumbuhan kredit, total kredit Maybank Indonesia juga turun 14,6% menjadi Rp98,8 triliun di tengah upaya bank memitigasi risiko kredit selama masa pandemi. Kredit Community Financial Services (CFS) turun 17,5% disebabkan oleh penurunan kredit CFS Non-Ritel sebesar 22,3% dan penurunan kredit CFS-Ritel sebesar 12,0%.

Kredit Global Banking (GB) juga turun 8,2%. Namun, penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih bertumbuh positif sebesar 1,2% pada semester pertama 2021 menjadi Rp14,4 triliun dari Rp 14,2 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Secara kuartalan, KPR tumbuh 2,5% dari Rp14,1 triliun di kuartal pertama 2021. 

Total simpanan nasabah meningkat 1,6% menjadi Rp107,4 triliun pada semester pertama 2021. Bank menerapkan berbagai strategi untuk mempertahankan likuiditas yang kuat dan basis pendanaan yang efisien dengan meningkatkan dana murah dan mengurangi dana berbiaya tinggi.

Strategi tersebut berkontribusi pada peningkatan CASA, yang bertumbuh 6,4% menjadi Rp45,1 triliun. Rasio CASA juga naik menjadi 41,9% pada Juni 2021 dibandingkan 40,0% pada Juni 2020.  

Rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan to DepositRatio (LDR bank saja) berada di posisi yang sehat, pada level 80,1%, sementara Rasio Kecukupan Likuiditas/Liquidity Coverage Ratio (LCR bank saja), tercatat sebesar 188,97% pada semester pertama 2021, jauh di atas ketentuan minimum sebesar 100%.

Posisi permodalan Bank tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal/Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 26,3% pada Juni 2021 dibanding 22,1% pada periode yang sama tahun lalu. Total modal Bank tercatat naik menjadi Rp27,2 triliun pada Juni 2021 dari Rp26,4 triliun pada Juni 2020.

Transformasi digital

Maybank Indonesia terus melakukan transformasi perbankan digital pada layanan M2U ID yang terdiri dari internet banking (web) dan aplikasi (App), untuk memberikan kemudahan bagi nasabah dalam mengelola dan merencanakan keuangannya.

Untuk menambah kenyamanan bagi nasabah dalam bertransaksi, bank telah melakukan beberapa pengembangan di semester pertama 2021.

Hal tersebut meliputi penambahan fitur untuk membeli produk asuransi kesehatan secara online, dan fitur keamanan Secure2u untuk transaksi yang lebih cepat, nyaman dan aman, selain juga mengurangi ketergantungan terhadap SMS One-Time-Password (OTP). 

Transformasi tersebut telah menunjukan hasil positif, seperti tercermin pada peningkatan transaksi finansial melalui M2U ID App yang meningkat 25% menjadi lebih dari 6,5 juta transaksi pada semester pertama 2021.

Kemudian, terdapat lebih dari 60 ribu rekening tabungan dan deposito baru, yang dibuka secara online melalui M2U ID App selama periode tersebut. Total dana simpanan nasabah terhimpun mencapai lebih dari Rp4 triliun, hal ini menopang Bank dari sisi pendanaan secara signifikan. 

Unit Usaha Syariah

Maybank Indonesia mengimplementasikan strategi “Shariah First”, yang mengedepankan solusi keuangan Syariah menggunakan pendekatan Leveraged Model dimana Bank mendayagunakan seluruh sumber daya dan jaringan terkait pemasaran produk keuangan berbasis Syariah. Penerapan strategi ini berkontribusi terhadap peningkatan kinerja Unit Usaha Syariah (UUS).

Meskipun kondisi pasar masih penuh tantangan, Unit Usaha Syariah mencatat pertumbuhan laba sebelum pajak (PBT) yang pesat sebesar 67,6% menjadi Rp294 miliar.  Hal ini didukung oleh upaya berkelanjutan Bank dalam meningkatkan dana murah dan melakukan efisiensi biaya.  

Total simpanan nasabah naik 10,1% menjadi Rp26,9 triliun pada Juni 2021. Tekanan pada masa pandemi juga membuat total pembiayaan Unit Usaha Syariah turun tipis 1,0% menjadi Rp24,7 triliun pada akhir Juni 2021. 

Sementara, total aset pada akhir Juni 2021 naik 20,5% menjadi Rp36,4 triliun dari Rp30,2 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Total aset Unit Usaha Syariah menyumbang 22,5% terhadap total aset Bank secara konsolidasian.

Unit Usaha Syariah Maybank Indonesia secara aktif memperluas jangkauanya untuk memasarkan solusi keuangan Syariah kepada nasabah yang lebih luas. Upaya ekspansi tersebut merupakan kelanjutan dari strategi “Shariah First”. 

Di kuartal kedua 2021, Maybank Indonesia membuka Kantor Cabang Syariah di Samarinda (Kalimantan Timur), menyusul Jambi, Malang (Jawa Timur), dan Aceh yang dibuka pada kuartal sebelumnya. Termasuk kantor cabang baru tersebut, kini Maybank Indonesia telah mengoperasikan 19 Kantor Cabang Syariah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selain itu, pada bulan Mei 2021, Bank menggelar Maybank Indonesia Shariah Thought Leaders Forum, yakni sebuah forum diskusi virtual yang mengundang thought leaders, terdiri dari praktisi bisnis, regulator, dan akademisi di bidang industri keuangan Syariah, untuk membahas mengenai strategi serta tantangan dalam membangun ekonomi dan industri keuangan Syariah di Indonesia.

Dukungan Bank terhadap nasabah dan masyarakat

Semenjak pandemi Covid-19 merebak pada kuartal kedua 2020, Bank selalu memantau asetnya di seluruh segmen bisnis dan secara aktif telah membantu debitur menganalisa dampak pandemi terhadap bisnis mereka. Bank juga menilai apakah diperlukan restrukturisasi dan penjadwalan ulang (R&R) untuk menjaga kelangsungan bisnis debitur.

Sebagai entitas bisnis yang beroperasi dan bertumbuh di Indonesia, Maybank Indonesia menjalankan berbagai program corporate social responsibility (CSR) di antaranya,  program pengembangan wirausaha mandiri bagi komunitas difabel melalui program Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship (RISE) 2.0 yang dilaksanakan di Palembang dan Semarang secara virtual di kuartal kedua 2021.

Sejak diluncurkan pada 2019, program RISE 2.0 telah menyediakan pelatihan terhadap lebih dari dua ribu peserta dari komunitas difabel dan marjinal yang tersebar di 20 kota di Indonesia.

Selain itu, Bank juga secara aktif memberikan bantuan bagi para korban bencana gempa dan tsunami di wilayah Sulawesi Tengah dengan membangun hunian tetap. Kini 6 unit rumah sudah dibangun dari 10 unit yang ditargetkan selesai pada 2022. Di samping itu, Bank juga memberikan bantuan paket makanan dan obat-obatan untuk korban banjir dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur. 

Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan,“Kondisi pandemi saat ini cukup memprihatinkan, di mana data Pemerintah menunjukkan telah terjadi peningkatan kasus positif Covid-19 di akhir kuartal kedua 2021."

"Hal ini telah berdampak pada sejumlah aktivitas masyarakat dan bisnis, termasuk sektor keuangan. Menurut pandangan kami, pemberlakuan PPKM Darurat dan akselerasi program vaksinasi oleh Pemerintah, dapat menumbuhkan kepercayaan pasar terkait pemulihan ekonomi secara bertahap,” jelas Taswin.

“Kami akan tetap disiplin dalam mengelola pertumbuhan bisnis Bank dan senantiasa menerapkan manajemen risiko yang konservatif di tengah kondisi yang menantang saat ini. Kami akan terus berinovasi dalam menyediakan berbagai produk dan solusi keuangan yang relevan bagi nasabah di tengah pandemi yang sejalan dengan misi Bank, Humanising Financial Services. Dengan permodalan yang kuat dan likuiditas yang memadai, kami siap menyambut peluang pertumbuhan, seiring dengan pemulihan ekonomi.”

Presiden Komisaris Maybank Indonesia Datuk Abdul Farid Alias mengatakan, “Kami melihat dampak pandemi COVID-19 masih terus berlanjut. Meski demikian, kami tetap optimis bahwa kondisi yang menantang dan tidak pasti saat ini dapat diatasi pada waktunya."

"Kami yakin dengan menerapkan prinsip kehati-hatian terkait pengelolaan aset dan likuiditas, didukung manajemen risiko yang kuat, Bank dapat mengatasi tantangan saat ini. Kami percaya terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan senantiasa aktif dalam menyediakan layanan perbankan yang lebih baik kepada nasabah," jelas Abdul Farid Alias.

Anak Perusahaan

PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance)

Laba sebelum pajak (PBT) PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance) turun 7,6% menjadi Rp229 miliar pada enam bulan pertama tahun 2021. Hal ini sejalan dengan turunnya total pembiayaan sebesar 13,9% menjadi Rp 5,7 triliun. 

Maybank Finance tetap fokus untuk memastikan pengelolaan aset yang baik, dimana tingkat NPL turun menjadi 0,7% (gross) dan 0,3% (net) pada Juni 2021, dibandingkan dengan 0,8% (gross) dan 0,4% (net) pada periode yang sama tahun lalu.

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. (WOM) 

Pandemi telah berdampak secara signifikan terhadap daya beli konsumen, dimana hal ini juga membuat sektor pembiayaan sepeda motor melemah. Kondisi ini mengakibatkan laba sebelum pajak (PBT) WOM turun menjadi Rp63 miliar pada Juni 2021 dibandingkan Rp73 miliar pada Juni 2020.  

Total pembiayaan konsumen WOM turun 29,9% menjadi Rp4,3 triliun pada Juni 2021. WOM dapat mempertahankan kualitas aset, dengan NPL yang membaik tercatat pada level 2,2% (gross) dan 1,0% (net) pada Juni 2021, dibandingkan dengan 5,6% (gross) dan 2,6% (net) pada periode yang sama tahun lalu. (RO/OL-09)
 

BERITA TERKAIT