31 July 2021, 07:17 WIB

KT&G Bukukan Penjualan Bruto Senilai Krw 5.301 Miliar


mediaindonesia.com | Ekonomi

TERLEPAS dari kondisi pandemi, KT&G, perusahaan tembakau terbesar kelima di dunia dalam pangsa pasar dan volume penjualan rokok asal Korea Selatan, berhasil merambah sekitar 30 negara baru dan menjadi perusahaan global yang mengekspor berbagai produknya ke sekitar 110 negara.

Melalui keterangan resminya, yang dikutip Sabtu (31/7) Jaeyoung Cho, Chief of Global Headquarter of KT&G menjelaskan tahun lalu, KT&G membukukan penjualan bruto konsolidasian senilai KRW 5.301,6 miliar, dan kapitalisasi pasarnya di bursa efek Korea Selatan mencapai KRW 11 triliun. KT&G juga memiliki kelompok usaha yang bergerak di sektor makanan kesehatan, real estat, obat-obatan, kosmetik, dan lain-lain.

"Sejak pasar produk tembakau di Korea dibuka pada 1988, persaingan sengit terjadi di industri ini ketika kalangan produsen global turut merambah pasar, seperti PMI dan BAT. Namun, KT&G sukses mempertahankan posisi No.1 di pasar Korea Selatan dan menguasai pangsa pasar sebesar 64% (per 2020)," ujar dia.
Ia melanjutkan KT&G menyesuaikan strategi ekspansi di luar negeri berdasarkan kondisi pasar, sistem, selera konsumen lokal, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, pada Juli 2011, demi mempertahankan kualitas unggulan rokok Kretek (produk khas Indonesia) yang memakai cengkeh dan rempah-rempah lokal, KT&G mengakuisisi Trisakti, perusahaan tembakau di Indonesia. Lalu, KT&G mendirikan PT KT&G Indonesia pada Februari 2013 untuk menangani distribusi dan logistik di Indonesia.

KT&G, telah sepenuhnya merambah pasar Indonesia pada 10 tahun lalu, dikenal luas atas reputasinya dalam memenuhi tanggung jawab sosial perusahaan dan menjadi warga perusahaan global yang baik.

"Sejak 2016, KT&G berkontribusi terhadap pemberdayaan komunitas lokal dengan menciptakan sekitar 900 lapangan pekerjaan baru setiap tahun. Secara kumulatif, KT&G menyediakan pekerjaan bagi sekitar 4.800 orang di Indonesia. KT&G juga ingin merevitalisasi perekonomian Indonesia dengan membeli daun tembakau dan bahan baku lokal, dan sejumlah upaya lainnya," kata Jaeyoung Cho.

Bukan hanya itu, perusahaan global KT&G ikut menangani berbagai isu sosial di Indonesia, khususnya di sektor pendidikan, perumahan, dan lingkungan hidup. KT&G membantu golongan masyarakat kurang mampu dengan meningkatkan keahlian dan mendukung mereka agar dapat mandiri melalui Pusat Pelatihan Kejuruan, dan lain-lain.

KT&G mendirikan Pusat Pelatihan Kejuruan guna meningkatkan kemandirian dan keahlian kerja masyarakat kurang mampu. Pada Desember 2020, fasilitas Pusat Pelatihan Kejuruan telah dibangun bersama Universitas UKCW di Malang, Indonesia. Mulai Januari tahun ini, pendidikan tentang teknologi dan keahlian menjahit telah tersedia gratis bagi keluarga-keluarga prasejahtera.

Sementara itu, Sangsang Fund, sumbangan pegawai KT&G, membiayai pendirian Pusat Pelatihan Kejuruan. Sangsang Fund adalah dana donasi yang digalang sukarela oleh jajaran eksekutif dan pegawai KT&G. Ketika seorang pegawai menyumbangkan porsi tertentu dari gaji bulanannya, KT&G akan menciptakan program hibah yang tepat untuk uang yang telah didonasikan tersebut.

"Sangsang Fund membantu golongan masyarakat kurang mampu dan menangani isu-isu sosial yang mendesak. Skala operasional tahunannya mencapai sekitar KRW 4 miliar," kata dia.

Ia menjelaskan segala kegiatan itu dilakukan karena Indonesia dan Korea Selatan merupakan negara sahabat dan telah melakukan pertukaran aktivitas ekonomi di beragam bidang sejak hubungan diplomatik kedua negara resmi terjalin pada 1973.

“Sebagai perusahaan yang mewakili Korea Selatan, kami akan terus membina SDM berbakat yang akan memimpin masa depan dan melakukan kontribusi sosial dengan mendukung kemandirian ekonomi," tutup Jaeyoung Cho. (OL-13)

Baca Juga: Jalan Tol Jadi Serapan Tertinggi Pendanaan Pembebasan Lahan di 2021

BERITA TERKAIT