30 July 2021, 14:00 WIB

Analisa Saham ABM Investama dengan Peringkat Obligasi B-1 pada Juli


Mediaindonesia.com | Ekonomi

SAHAM perusahaan batu bara meraih untung dari kenaikan harga komoditas tersebut di pasar global. Namun, investor diminta tetap waspada terhadap risiko fundamental emiten dan tingkat likuiditas sahamnya.

Harga batu bara melonjak 80% sejak awal 2021 hingga menembus US$154,5 per ton. Angka ini mencapai rekor tertinggi dalam 13 tahun terakhir hingga ikut memompa harga saham sektor ini. Salah satunya saham PT ABM Investama Tbk (ABMM).

Rating emiten itu diturunkan lembaga pemeringkat Moody's dari stabil menjadi negatif pada Mei 2020 dan peringkat obligasi ABMM pada level B-1 atau tidak layak investasi pada Juli 2021. Menurut analis teknikal Panin Sekuritas William Hartanto, ABMM ialah saham yang tidak likuid alias sulit dijual jika investor membeli saham ini dalam jumlah besar. Oleh karena itu, dia menilai kenaikan harganya lebih karena euforia atau sesaat saja.

"Kalau lihat dari perdagangan saham ini umumnya bukan dasarnya saham dengan likuiditas tinggi. Dia baru mulai naik belakangan ini. Jadi secara tingkat risiko agak lebih tinggi dibanding saham-saham batu bara yang lain. Tetapi secara teknikal jika trennya memang jelas menguat, memungkinkan untuk diikuti," ujarnya dikutip dari Metro TV, Kamis (29/7).

Kepala Riset Infovesta Wawan Hendrayana menegaskan, rating B-1 atau tidak layak investasi yang diberikan Moody's pada obligasi ABM Investama karena risiko meningkat. Ini terutama terkait kemampuan korporasi membayar utang dan kepastian aset yang akan dijaminkan jika emiten kesulitan membayar.

"Sebetulnya rating B di bawah investment grade (BBB). Jadi ABMM juga, meskipun kayak junk bond, tapi kalau dia punya anak usaha yang menguntungkan, investor mungkin masih berani untuk kasih pinjaman. Toh kalaupun default atau enggak bisa bayar, nanti bisa dikonversi dari aset yang lain," jelasnya.

Analis saham Hans Kwee menilai, penerbitan obligasi di tengah ketidakpastian saat ini akibat pandemi covid-19, seperti yang dilakukan perseroan, sangat berisiko. Apalagi nilai utangnya sudah mencapai 78% dari asetnya.

"Artinya ini di pertengahan jalan ya. Jadi manajemen harus hati-hati mengelola perusahaan. Kalau utangnya terlalu besar pasti akan sulit dibayar. Tapi kalau di posisi ini (78%) agak mix di tengah. Kalau dikelola dengan hati-hati, perusahaan bisa survive dan berjalan dengan baik. Tetapi kalau menghadapi kendala-kendala, mungkin akan kesulitan membayar utang," paparnya.

Baca juga: Harga Timah Tertinggi Pimpin Perdagangan Semester-II 2021

ABM Investama berencana menerbitkan surat utang dalam dolar AS senilai US$400 juta di pasar Singapura. Dana obligasi tersebut rencananya digunakan untuk menebus atau refinancing utang senior senilai US$350 juta yang jatuh tempo pada Agustus 2022. Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service menetapkan peringkat B-1 untuk surat utang yang akan diterbitkan itu. (OL-14)

BERITA TERKAIT