22 July 2021, 19:46 WIB

Imbas PPKM, BI Perkirakan Pertumbuhan Kredit Lebih Rendah


Fetry Wuryasti | Ekonomi

BANK Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit pada kuartal III 2021 lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Hal itu dipengaruhi penurunan kegiatan ekonomi karena adanya pembatasan mobilitas di masa pandemi covid-19.

"Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2021 menjadi 4-6% dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi 6%-8%," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/7).

Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan KSSK untuk implementasi paket kebijakan terpadu. Tujuannya, menjaga stabilitas sistem keuangan dan meningkatkan kredit atau pembiayaan bagi dunia usaha pada sektor prioritas, termasuk UMKM.

Baca juga: BI Masih Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 3,5%

Perry juga menyampaikan suku bunga kebijakan moneter yang tetap rendah dan likuiditas yang masih longgar, telah mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan terus, walaupun masih terbatas.

Di pasar uang dan pasar dana, suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) overnight dan suku bunga 1 bulan deposito perbankan telah menurun. Adapun masing-masing sebesar 153 bps dan 209 bps sejak Mei 2020 menjadi 2,79% dan 3,6% pada Mei 2021.

Lalu, di pasar kredit, penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan terus berlanjut, meski dengan besaran respons yang lebih terbatas. Penurun tercatat sebesar 169 bps sejak Mei 2020 menjadi 8,86% pada Mei 2021.

Baca juga: Pemerintah Sudah Kucurkan Rp6,75 Triliun untuk Subsidi Listrik

Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK) menjadi pendorong utama penurunan SBDK. Sementara, peningkatan margin keuntungan masih berlanjut pada kelompok KCBA dan bank BUMN. Di sisi lain, premi risiko perbankan menunjukkan penurunan, yang mengindikasikan persepsi risiko perbankan terhadap dunia usaha cenderung membaik.

Penurunan premi risiko tersebut mendorong penurunan suku bunga kredit baru di hampir semua kelompok bank, kecuali kelompok BUSN. Berdasarkan jenis kredit, penurunan suku bunga kredit baru paling dalam terjadi pada jenis kredit mikro. Lalu, diikuti jenis kredit investasi dan modal kerja.

"Bank Indonesia mengharapkan perbankan terus melanjutkan penurunan suku bunga kredit, sebagai upaya bersama untuk mendorong kredit kepada dunia usaha," tutur Perry.(OL-11)
 

 

 

 

BERITA TERKAIT