21 July 2021, 11:05 WIB

Covid-19 Varian Delta Sebabkan Ekonomi Dunia akan Melambat


Fetry Wuryasti | Ekonomi

MENINGKATNYA penularan Covid-19 varian Delta di berbagai negara, akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi global, juga semakin tidak meratanya pertumbuhan di berbagai negara.

"Hampir separuh populasi masyarakat Australia kembali melakukan lockdown setelah varian delta mulai kembali menyebar di negara bagian Australia selatan, Victoria dan New South Wales," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Rabu (21/7).

Mulai Selasa malam (20/7), Australia kembali memberlakukan lockdown paling ketat di Australia sejak awal pandemi dulu. Masyarakat diminta untuk tinggal di rumah dan mematuhi jam malam yaitu 6 sore. Lockdown yang dilakukan oleh Australia akan menghambat pemulihan ekonomi yang terjadi di Australia.

Perekonomian Australia berpotensi mengalami penurunan sebanyak 0,7% pada kuartal ini jika lockdown terjadi selama 3 minggu mendatang. Australia menjadi negara paling lambat dalam eksekusi vaksinasi dari 38 negara OECD, sehingga hal tersebut membuat Australia menjadi sangat rentan akan penularan.

Sejauh ini vaksinasi telah diberikan kepada hamper 20% populasi Australia, berbeda jauh kalau dibandingkan dengan Amerika yang sudah sebanyak 53% dan Inggris sebanyak 62%. Victoria kembali memperpanjang fase lockdown, yang menjadi yang ke-5 sejak pandemi dimulai.

Pihak berwenang mengharapkan untuk pembukaan lebih awal. Namun wabah yang memburuk menjadi sebuah pertimbangan tersendiri karena rantai penularan yang belum putus.

Oleh sebab penyebaran Covid-19 membuat ketidakpastian pemulihan ekonomi terhambat, Bank Sentral Australia mengatakan akan terus mempertahankan sebuah pilihan untuk meningkatkan atau mengurangi pembelian obligasi sesuai dengan situasi dan kondisi berkembang.

Bank Sentral Australia, 2 minggu lalu mengumumkan akan melakukan pengetatan kebijakan, karena perekonomian kembali mengalami pemulihan. Namun secara perlahan, pemulihan ekonomi di Australia menjadi terhambat sehingga pengetatan mungkin akan dibatalkan. Hal ini yang akan dikhawatirkan tentu saja Indonesia akan mengalami hal yang serupa dengan Australia.

Karena ketidakpastian meningkat, tentu saja Bank Sentral Australia sepakat untuk lebih fleksibel dalam memberikan kebijakan khususnya terkait dengan jumlah pembelian obligasi di pasar.

Bank Sentral Australia sendiri mengatakan bahwa efek dari peningkatan Covid-19 membuat perekonomian semakin bertambah tidak pasti, sehingga tentu akan mendorong perekonomian mengalami kesulitan untuk pulih.

Sydney sejauh ini masih menyumbang 25% dari GDP Australia, sehingga pengetatan akan membuat perekonomian akan kembali tertekan. Sejauh ini tingkat pengangguran di Australia kembali turun hingga 4,9% pada bulan June silam, dimana dukungan kebijakan fiskal dan moneter telah membuat perekonomian kembali bangkit.

Namun sejauh ini, Bank Sentral Australia sendiri sudah mengatakan tidak akan menaikkan tingkat suku bunga hingga 2024 mendatang. Pemulihan di sektor ketenagakerjaan memang memberikan hasil yang baik, namun diperkirakan tidak akan bertahan lama.

Singapura akan melakukan hal yang sama terkait dengan mulainya pengetatan pembatasan mobilitas khususnya di tempat makan dan pertemuan sosial.

Peningkatan kasus di seluruh Asia Tenggara membuat Singapura berjaga jaga untuk dapat lebih berhati-hati dalam membuat kebijakan. Makan di tempat saat ini sudah dibatalkan, dan pertemuan berkelompok hanya dibatasi hingga 2 orang hingga 18 August 2021. Namun supermarket dan pasar akan tetap dibuka.

Sejauh ini Singapura cukup khawatir dengan kecepatan infeksi dan tingkat pertumbuhan klister baru, sehingga Singapura harus mencari cara untuk memperlambat situasi dan kondisi yang ada saat ini. Fokus utamanya memperlambat penularan, dan kalau apabila hal tersebut berhasil, tentu saja hal ini akan mendorong Singapura untuk melakukan pembukaan kembali.

Sejauh ini sudah lebih dari 85% warga Singapura sudah di vaksinasi dan sebagai informasi, Singapura melakukan 80.000 vaksinasi per hari, dan 70% - 75% merupakan vaksinasi ke-2. Singapura hingga saat ini sudah mencapai 48,3% dari populasi yang sudah menerima suntikan ke-2. Singapura juga akan menutup kembali semua tempat hiburan malam, dan memberlakukan kembali pengaturan ketat untuk makan di tempat.

Pada hari Selasa kemarin, Singapura mencatat 182 kasus baru, dengan 135 diantaranya berada di pelabuhan. Singapura yakin bahwa situasi dan kondisi saat ini akan cepat berlalu, karena dengan nilai penularan yang minim, sehingga memberikan kesempatan kepada bisnis untuk tetap berjalan.

Situasi dan kondisi di setiap negara berbeda, dan tampaknya bagi beberapa negara penambahan kasus dengan hitungan 100 orang sudah dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga diberlakukan lockdown.

Dengan tingkat penetrasi peraturan yang tinggi, sejauh ini beberapa negara mampu untuk menjaga tingkat penyebaran, selain masyarakatnya yang patuh, ini juga menjadi sebuah tanda bahwa untuk mencegah penyebaran virus corona adalah dari diri sendiri.

"Sejauh ini yang kami cukup khawatirkan adalah penurunan imbal hasil US Treasury yang turun ke level terendahnya dalam beberapa bulan terakhir pada hari Senin kemarin yang saat ini berada di kisaran 1,22%.

Apabila US Treasury 10y jatuh ke kisaran lebih dari 1,47%, maka kecil kemungkinan US Treasury mengalami kenaikkan kembali. Oleh sebab itu kami melihat penurunan yield US Treasury merupakan bagian dari beberapa kekhawatiran yang muncul dari pelaku pasar dan investor terkait dengan pemulihan ekonomi dunia yang dimana menurunkan ekspektasi pasar ekuitas. Kesenjangan antara yield US Treasury 30y dan 10y juga terus menyempit hingga kurang dari 100 bps, terjadi sejak Februari silam.

Sedangkan spread antara US Treasury 30y dan 5y juga menyempit hingga 110 bps. Pelaku pasar dan investor menunjukkan sisi dimana kebijakan fiskal dan moneter yang berbeda di setiap negara dan tidak bisa mendorong terlalu banyak, justru akan membuat pemulihan kemungkinan akan terhambat. (OL-13)

Baca Juga: Ada Optimisme Baru Wall Street Bangkit

BERITA TERKAIT