19 July 2021, 19:58 WIB

Sandiaga Tetap Kirim Delegasi Promosi Kuliner ke AS Meski PPKM Darurat


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno tetap mengirim delegasinya ke Amerika Serikat (AS) meski ada PPKM darurat. Kegiatan di Amerika dalam rangka melakukan rapat koordinasi program Indonesia Spice Up the World (ISUTW), guna mempromosikan kuliner dan bumbu masak dari Tanah Air.

Dia mengatakan, keberangkatan timnya dalam rangka persiapan Spice Up The World di World Expo di Dubai pada Oktober mendatang. Di New York, AS sendiri dikabarkan memiliki jumlah penggiat kuliner Indonesia yang cukup signifikan dan dinilai aktif untuk mempromosikan ISUTW.

"Penundaan tidak menjadi opsi, the show must go on (agenda terus berlanjut)," kata Sandiaga dalam Weekly Briefing virtual, Senin (19/7).

 

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu menuturkan, program ISUTW ditargetkan meningkatkan ekspor rempah dan bumbu Indonesia menjadi US$2 miliar serta mengincar pembukaan 4.000 restoran Indonesia di luar negeri. Hal ini dianggap bisa menggerakan perekonomian pelaku ekonomi kreatif yang terdampak covid-19.

"It's our choice mau tunda apa tidak, tapi pasarnya di sana. Sebagai strategis saya membela 20 juta masyarakat pelaku ekonomi kreatif sekarang sedang mengalami tekanan, mereka membutuhkan pasar luar negeri," tutur Sandiaga.

Peluang itu, lanjutnya, harus dimanfaatkan pemerintah untuk membuka keran pendapatan para pelaku ekonomi kreatif dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

"Mereka mengharapkan bahwa selama pandemi terbuka peluang-peluang yang selama ini tidak hadir, tiba-tiba rempah-rempah Indonesia memiliki peluang untuk berkembang. Boleh PPKM darurat ini satu tekanan di dalam kegiatan pariwisata, tapi tidak boleh menyurutkan semangat dan persiapan kami," tandas Politikus Partai Gerindra itu.

Program ISUTW sendiri digagas oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Program ini dicanangkan dengan melihat fakta kurangnya dikenalnya bumbu asli Indonesia, padahal memiliki cita rasa yang khas dan potensi yang tinggi. 

Hal ini dianggap menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor bahan pangan ke kedua negara tersebut. Pada 2019, Afrika dilaporkan mengimpor bahan

pangan olahan sejumlah US$29,1 miliar, sementara Indonesia hanya mampu memenuhi 0,67% kebutuhan tersebut. Sedangkan untuk pasar Australia, Indonesia hanya memenuhi 3,87% kebutuhan pangan olahannya. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT