14 July 2021, 23:34 WIB

Industri Manufaktur Diyakini Tetap Bergeliat


M Ramadhan Avisena | Ekonomi

MENTERI Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meyakini industri otomotif di Indonesia bakal tumbuh dan bergeliat di masa pandemi covid-19. Meski pemerintah kembali membatasi aktivitas masyarakat, kinerja sektor industri otomotif diperkirakan akan tetap berada di koridor pemulihan.

"Menurut pandangan kami, kita lihat PMI (Purchasing Manager's Index) selama 8 bulan terakhir, industri tetap menguat. Karena delapan bulan terakhir posisi PMI manufaktur Indonesia selalu di atas 50 poin. Sehingga menunjukkan bahwa memang industri manufaktur kita sedang optimis, atau sedang menggeliat," kata dia dalam Investor Daily Summit 2021 bertema Mendorong Industri Otomotif Ramah Lingkungan secara virtual, Rabu (14/7).

Merujuk data IHS Markit, PMI manufaktur Indonesia tercatat berada di zona ekspansi dalam beberapa bulan terakhir. Pada rentang Maret, April, Mei, PMI industri pengolahan tetap tumbuh di zona ekspansi dan mencatatkan level tertinggi dalam sejarah, yakni 55,3 pada Mei tahun ini.

Agus bilang, posisi PMI manufaktur Indonesia memang mengalami penurunan pada Juni 2021 ke level 53,5. Tapi posisi itu masih menunjukkan optimisme karena angka tersebut masih di atas 50 yang menandakan pelaku usaha industri manufaktur siap berekspansi.

Dia bilang, capaian kinerja industri manufaktur itu tak lepas dari torehan kinerja positif industri otomotif nasional. Tercatat, pada rentang Januari-April 2021 ekspor produk otomotif kendaraan bermotor roda empat atau lebih mencapai Rp30 triliun.

Dari total nilai ekspor tersebut, Rp18,63 triliun diantaranya merupakan sumbangan dari ekspor kendaraan Compeletely Build Up (CBU), alias Indonesia mengimpor kendaraan itu secara utuh ke 80 negara tujuan ekspor.

Selain itu, pada periode Januari-Mei 2021 produksi kendaraan bermotor roda empat atau lebih di Indonesia mencapai 413 ribu unit dengan whole sale sebanyak 320 unit. Agus mengatakan, untuk mendorong sektor otomotif tetap bertumbuh, pemerintah juga telah meluncurkan insentif fiskal.

Insentif tersebut berupa relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Kendaraan Bermotor ditanggung pemerintah (DTP) yang telah diperpanjang hingga 31 Desember 2021. Relaksasi itu diberikan untuk kendaraan bermotor roda empat dengan kapasitas mesin mencapai 2.500cc dan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 60%.

"Berdasarkan hasil evaluasi kami, secara perlahan, kebijakan relaksasi PPnBM DTP telah meningkatkan penjualan jenis kendaraan bermotor yang ditetapkan untuk mendapatkan relaksasi. Total penjualan hingga periode Juni 2021 telah mencapai 167.774 unit," imbuh Agus.

"Hal ini tentunya berdampak positif bagi pemulihan sektor industri otomotif yang memiliki multiplier effect sangat luas bagi sektor industri lainnya. Sehingga pada gilirannya akan mampu men-jump start perekonomian nasional," pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT