14 July 2021, 21:49 WIB

Zero ODOL 2023 Dinilai Hambat Proyek Strategis Nasional


Abdillah M Marzuqi | Ekonomi

PELAKSANAAN zero ODOL (over dimension over load) pada awal 2023 dinilai akan menghambat proyek-proyek strategis nasional. Kebijakan itu dianggap akan menghambat industri semen yang menjadi salah satu komponen utama dalam pembangunan infrastruktur ini untuk bisa dengan cepat mendistribusikan semennya ke lokasi proyek. 

Fredy Agung Prabowo dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mengatakan kebijakan zero ODOL akan menyebabkan terjadinya penambahan armada yang cukup signifikan. Selain itu, juga akan terjadi pengurangan muatan sekitar 80%.

“Nah, dengan penambahan armada yang sangat banyak, itu pasti akan menambah waktu angkut menjadi lebih lama.  Sebab, di area pabrik akan terjadi antrean karena waktu yang dibutuhklan untuk pengisian menjadi lebih lama. Kondisi itu pasti akan berdampak untuk sampainya semen tepat waktu ke lokasi proyek,” ujar Fredy.

Jika semen itu terlambat tiba ke lokasi proyek, menurut Fredy, akibatnya pembangunan proyek juga akan terlambat, termasuk proyek-proyek infrastruktur pemerintah. 

“Akibatnya, ini pasti bisa menghambat percepatan pembangunan dari proyek-proyek infrastruktur pemerintah,” tandasnya.  

Fredy mengatakan Asosiasi Semen Indonesia sudah sepakat untuk mengajukan penundaan penerapan zero ODOL ini menjadi awal 2025. Menurutnya, hal itu juga sudah melalui kajian dengan akademisi.

“Kajian itu sudah komprehensif terkait dengan apa yang dilakukan industri semen dalam hal ini dan dan juga apa yang harus dilakukan pemerintah,” tuturnya.

Dia juga mengajak para pembuat kebijakan untuk melihat kondisi sulit yang terjadi di masa pandemi covid-19 saat ini. Menurutnya, kondisi pandemi sangat berdampak cukup besar terhadap pertumbuhan industri semen. Belum lagi adanya pengurangan anggaran di sektor infrastruktur.

“Nah, di situasi kondisi sulit saat ini, mana mungkin kita untuk menambah lagi investasi yang juga cukup besar untuk penambahan armada dalam waktu singkat,” ucapnya. 

Menurut Fredy, yang harus diperhatikan lagi sebelum penerapan zero ODOL ini adalah soal pengalihan moda transportasinya. Dari analisa yang sudah dilakukan industri semen,  pengalihan moda dari truk ke kereta api akan menaikkan ongkosnya karena ada multi handling yang harus dipersiapkan. Begitu juga jika industri mau menambah armada truknya, menurut Fredy, para ekspeditur masih resisten untuk melakukan investasi.

“Kami sudah bincang-bincang ke ekspeditur sebagai partner kami, dan mereka mengatakan dengan kondisi ekonomi yang sekarang ini mereka juga masih resisten untuk melakukan investment. Selain itu, mereka juga harus menyediakan driver yang memiliki skill, dan itu tidak gampang untuk mencarinya dalam waktu singkat,” pungkasnya. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT