14 July 2021, 18:45 WIB

Asuransi Berperan Penting dalam Proyek Hulu Migas


Mediaindonesia.com | Ekonomi

KEHADIRAN asuransi di sektor minyak dan gas (migas) memainkan peran penting guna memitigasi risiko bila terjadi insiden dalam pelaksanaan proyek hulu migas. 

Saat ini ada tujuh perusahaan yang tergabung dalam konsorsium asuransi SKK Migas yang memproteksi proyek-proyek migas di Indonesia. Ketujuh asuransi itu  adalah PT Asuransi Jasa Indonesia, PT Asuransi Kredit Indonesia, PT Asuransi Astra Buana, PT Asuransi Jasaraharja Putera, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk, PT Asuransi Wahana Tata, dan PT Asuransi Central Asia.

“Kami konsorsium asuransi dengan  Jasindo menjadi leadernya telah memberikan proteksi terhadap 128 blok migas baik di offshore dan onshore,” kata   Direktur Bisnis Strategis PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), Syah Amandaris dalam webinar terkait industri asuransi di sektor hulu migas, Rabu (14/7).

Aris menuturkan nilai klaim yang dibayarkan konsorsium asuransi proyek konstruksi SKK Migas dan KKKS telah  mencapai sekitar US$524,16 juta. Sejak 2010 hingga 2021  konsorsium telah melakukan pembayaran klaim sebanyak 121 klaim baik untuk aset ataupun konstruksinya.
Secara terperinci jumlah klaim itu terdiri dari 97 klaim untuk aset dengan nilai US$323,32 juta. Sisanya sebanyak 24 klaim untuk proyek konstruksi dengan nilai US$200,83 juta.

“Kami konsorsium berperan penting dalam proyek hulu migas. Bisa dibayangkan kalau proyek itu tidak diasuransikan betapa besarnya biaya yang dikeluarkan oleh negara melalui SKK Migas atau KKKS ketika terjadi hal- hal yang tidak diinginkan,” katanya.


Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas, Arief Setiawan Handoko mengatakan keberadaan asuransi  turut menjadi salah satu faktor penentu dari suksesnya pencapaian target produksi minyak sebanyak 1 juta BOEPD dan 12 miliar gas kaki kubik di tahun 2030.

“Asuransi terbukti mampu menyelesaikan klaim-klaim dan mampu mengurangi kerugian yang diderita KKKS. Maka butuh support dari berbagai pihak termasuk industri asuransi dalam memberikan perlindungan terhadap aset dan kegiatan pada hulu migas,” katanya.

Dalam kesempatan itu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menyatakan bahwa keberadaan industri jasa asuransi di proyek hulu migas terbukti sangat penting.  Deddy Adrian, Manager Financial Risk dan Insurance PT PHE menyatakan pihaknya pernah mengalami dua insiden yang cukup fatal sehingga memaksa perusahaan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. 

Pertama yaitu terjadinya anjungan miring pada tahun 2012 lalu. Akibat kejadian ini PHE mengalami kerugian hingga US$16 juta. Atas insiden yang terjadi tersebut, PHE melalui anak usahanya mendapatkan ganti rugi sebesar US$15 juta.

Insiden kedua terjadi pada  2019 lalu dsaat melakukan pengeboran minyak di salah satu wilayah kerja (WK) PHE terjadi weel blow out. Insiden ini menyebabkan PHE mengalami kerugian sekitat US$182 juta. Namun setelah diajukan klaim, PHE mendapatkan penggantian kerugian sebesar US$138 juta. (RO/E-1)
 

BERITA TERKAIT