05 July 2021, 19:35 WIB

Harga Batu Bara Acuan pada Juli ini Tertinggi dalam 10 Tahun


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

HARGA Batu Bara Acuan (HBA) pada Juli 2021 mencatatkan kenaikan sebesar US$15,02 per ton menjadi US$115,35 per ton, dibandingkan Juni 2021 pada level US$100,33 per ton. 

Kenaikan ini utamanya dipicu tingginya tingkat konsumsi di negara Asia Timur. Serta, dilaporkan menjadi HBA tertinggi dalam 10 tahun terakhir, atau tepatnya sejak November 2011. Faktor kenaikan HBA dalam negeri karena konsumsi batubara Tiongkok terus mengalami lonjakan.

"Kenaikan ini menjadi yang paling tinggi dalam satu dekade," ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan resmi, Senin (5/7).

Baca juga: Erick Thohir: Gasifikasi Batu Bara Hapus Ketergantungan Impor LPG

Tiongkok dikabarkan kewalahan memenuhi kebutuhan batu bara dalam negeri akibat kendala operasional. Seperti, kecelakaan tambang dan perubahan cuaca berupa hujan yang ekstrim. "Kapasitas pasokan batubara domestik Tiongkok terus menipis seiring kembalinya geliat aktivitas pembangkit listrik," papar Agung.

Selain Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan juga menunjukkan grafis kenaikan serupa. Ketetapan kenaikan HBA ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No.121.K/HK.02/MEM.B/2021 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu Bara Acuan untuk Bulan Juli Tahun 2021 dan ditetapkan oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 2 Juli 2021.

"Ini berimbas pada kenaikan harga batu bara global," imbuhnya.

Baca juga: Bahlil: RI Harus Jadi Negara Penghasil Baterai Mobil Listrik Terbesar Dunia

Kenaikan ini merupakan rekor tertinggi baru, setelah sebelumnya pada Juni 2021 juga menembus US$100,33 per ton. Serta, mencatatkan sebagai HBA tertinggi sejak November 2011 yang saat itu mencapai US$116,65 per ton.

ESDM mengungkapkan dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA, yaitu supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain.

Sementara itu, untuk faktor turunan demand dipengaruhi kebutuhan listrik yang turun, berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor dan kompetisi dengan komoditas energi lain. Seperti, LNG, nuklir dan hidro.(OL-11)
 

 

BERITA TERKAIT