05 July 2021, 18:50 WIB

Kecam Harga Obat Covid-19 Mahal, Erick: Menyakiti Rakyat


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengecam harga-harga obat covid-19 yang melejit tajam atau di atas ketetapan harga eceran tertinggi (HET). Pasalnya, obat itu sangat dibutuhkan di tengah lonjakan kasus covid-19 di Tanah Air.

"Harga-harga di pasaran saat ini sangat menyakitkan hati rakyat di tengah kebutuhan yang tinggi dan banyaknya pasien covid-19 yang meninggal dunia," kata Erick dalam keterangannya, Senin (5/7). Ivermectin, misalnya, dilaporkan tersedia secara bertahap di Kimia Farma dan lainnya. Untuk harga telah ditetapkan Rp7.885 per butir, termasuk PPN, sebagai HET yang sesuai dengan ketentuan Kemenkes.

Erick pun menginstruksikan kepada perusahaan farmasi BUMN, Indofarma, dan Kimia Farma untuk memastikan ketersediaan obat-obatan termasuk ivermectin yang saat ini sedang dalam uji coba klinis dengan harga terjangkau masyarakat. "Saya memerintahkan kepada Kimia Farma untuk segera memasarkan ivermectin dengan harga sesuai aturan Kemenkes dan BPOM dan hanya bisa diperoleh dengan resep dokter," tegas Erick.

Selain memberikan jaminan atas ketersediaan obat untuk terapi penyembuhan dengan harga terjangkau, Menteri BUMN juga berharap agar masyarakat lebih bijak dalam memenuhi kebutuhan obat tersebut dengan tidak membeli secara bebas atau mendapatkannnya tanpa disertai resep dokter. "Masyarakat harus bijak dan faham bahwa obat untuk terapi terkait covid-19 tidak bisa dibeli bebas dan tanpa resep dokter," ucap Erick.

Dia menambahkan, jika warga bisa mendapatkannya langsung di instalasi rumah sakit dan klinik, juga di jaringan apotek Kimia Farma dan lainnya tanpa seizin dokter, itu harus dilaporkan. "Karena hal itu sudah menjadi ketentuan, laporkan jika ada pelanggaran," jelas Menteri BUMN.

Ia juga memerintahkan kepada Kimia Farma untuk melakukan pengawasan internal di BUMN dan berjanji akan menindak secara tegas tanpa pandang bulu serta mengecam setiap oknum Kimia Farma, Indofarma, atau perusahaan BUMN yang menimbun demi memperoleh keuntungan pribadi. Indofarma, kata Erick, tengah menggenjot produksi ivermectin dari kapasitas terkini, 4,5 juta tablet/bulan menjadi 13,8 juta tablet/bulan pada Agustus 2021.

 

"Indofarma mampu memproduksi dalam jumlah banyak. Namun kami masih berkomitmen untuk mengikuti aturan dan standar yang ditetapkan," tandas Erick. (OL-14)

BERITA TERKAIT