29 June 2021, 15:34 WIB

BEI: Ada 26 Perusahaan dalam Proses IPO Tahun Ini


Fetry Wuryasti | Ekonomi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan ada 24 perusahaan yang mencatatkan penawaran umum di seluruh instrumen. Lalu, di pipeline BEI masih ada 30 perusahaan yang mengantre untuk diproses. 

Sehingga, total sebanyak 54 perusahaan atau 82% dari total target perusahaan yang melakukan penawaran umum. Seluruh instrumen tersebut seperti saham, obligasi, reksa dana exchange-traded fund (ETF) dan efek beragun aset (EBA).

Kemudian, efek beragun aset surat partisipasi EBA SP, Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (Dinfra), serta Dana Investasi Real Estate (Dire), termasuk Dire syariah. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna Setia menjelaskan pihaknya tidak akan menyebutkan nama perusahaan yang akan melakukan IPO, sebelum mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca juga: Investor Respons Positif Kebijakan Pandemi Jokowi

Perkiraan untuk instrumen saham saja, lanjut dia, di dalam pipeline BEI masih ada 26 perusahaan dalam proses IPO. Dari size aset perusahaan, setengah dari 26 perusahaan memiliki aset skala besar atau di atas Rp250 miliar. Kemudian, 10 perusahaan berasal dari aset skala menengah, yakni Rp50-250 miliar. Hanya 3 perusahaan antrean yang berasal dari skala aset kecil.

"Hampir sebagian besar perusahaan yang mau IPO berasal dari aset besar dan menengah," papar Nyoman seusai RUPS BEI, Selasa (29/6).

Sebanyak 8 perusahaan di antaranya akan tercatat pada Juli 2021. Hanya satu yang merupakan perusahaan teknologi atau e-commerce yang berskala besar. Terkait giant e-commerce yang akan IPO, draft peraturan multiple voting share (MVS) menjadi otoritas OJK. 

Baca juga: Presiden Ingin Ekosistem Digital di RI Lebih Inklusif

BEI bekerja sama dengan OJK sebagai partner untuk berdiskusi dan merumuskan MVS ini. Perkembangan terakhir yang bisa dia sampaikan adalah rule making rule process sudah selesai.

"OJK saat ini sedang memfinalisasi. Tentu dari BEI menginginkan peraturan ini segera terbit. Dalam hal tidak ada tanggapan yang substansial dari para pemangku kepentingan," imbuh Nyoman.

Untuk perusahaan yang eligible menggunakan MVS, boleh memilih menggunakan atau tidak MVS tersebut. Tidak semua e-commerce menyatakan akan menggunakan. Apabila perusahaan memilih menggunakan MVS, meski dinyatakan di dalam anggaran dasar mereka dahulu.

Baca juga: IPO Unicorn akan Jadi Game Changer Bagi Pasar Modal Indonesia

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Laksono W Widodo mengatakan jika perusahaan teknologi atau e-commerce berkapitalisasi besar akan melakukan IPO di pasar modal Indonesia. Diharapkan, mampu menambah jumlah investor di Indonesia, baik ritel, institusi, domestik, maupun asing.

"Diharapkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) bisa meningkat. Sehingga, meningkatkan likuiditas market. Pembobotan Indonesia di MSCI ataupun indeks regional maupun internasional bisa naik. Targetnya hingga akhir 2021, nilai transaksi harian masih dipertahankan di Rp11 triliun," terang Laksono.

Pada 2020, rata-rata nilai transaksi harian pada November pernah mencapai Rp13,2 triliun dan Rp18,4 triliun pada 2020. Capaian itu membantu menutup tahun 2020 dengan (RNTH) sebesar Rp9,2 triliun. BEI pada 2020 secara konsolidasi membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,62 triliun, atau meningkat 4,3% dari pendapatan usaha pada 2019.(OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT