25 June 2021, 10:19 WIB

Kementan Siap Dukung Pemkab Sidoarjo Kembangkan Urban Farming


mediaindonesia.com | Ekonomi

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) siap mendukung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, Jawa Timur, untuk mengembangkan urban farming. Hal itu untuk menyiasati penyusutan lahan yang massif setiap tahunnya dan berganti dengan industri. 

Menteri Pertanian Syahul Yasin Limpo (SYL) menjelaskan, pertanian kota sangat dibutuhkan dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Meski dengan lahan terbatas, namun

Mentan SYL menilai tak menghambat pertanian untuk tumbuh dan berkembang. "Urban farming ini juga bagian penting dari penyiapan kebutuhan pangan nasional. Urban farming ini pilihan strategis pertanian di tengah perkotaan," kata Mentan SYL.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi menanggapi positif keinginan Pemkab Sidoarjo yang ingin mengembangkan urban farming.

Kehadirannya ke Sidoarjo, Dedi menerangkan, memang dalam kerangka membangun kapasitas SDM pertanian, dalam hal ini penyuluh dan petani. 

"Arahnya tepat kalau ke urban farming karena Sidoarjo ini kota industri. Jadi saya sepakat dengan gagasan tersebut dan mari bersama-sama kita perkuat kapasitas SDM pertanian kita di Sidoarjo ini," ujarnya.

Menurut Dedi, urban farming yang mengandalkan vertikal farming harus memanfaatkan teknologi yang diperkenankan, sehingga pertanian akan berkembang lebih cepat, efisien dan efektif.

"Meski lahan sempit, tapi produktivitas urban farming sangat tinggi. Kmi memiliki banyak program mengenai hal ini. Nanti program pelatihan penyuluh dan petani, silakan arahkan ke sana. Kami punya banyak program. Ada program pengembangan urban farming, ada juga program pengembangan lahan pekarangan," tuturnya.

Di sisi lain, Dedi menjelaskan tugasnya secara nasional adalah mengembangkan kapasitas praktisi pertanian agar mampu menyediakan pangannya sendiri.

Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali tak menampik jika wilayahnya membutuhkan pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian. Sebabnya, kata Muhdlor, belakangan ini masyarakat Sidoarjo mulai meninggalkan sektor pertanian.

Hal itu disampaikan Muhdlor saat menerima audiensi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi di ruang kerjanya.

Menurut Mudhlor, saat ini masyarakat lebih mengharapkan menjual sawahnya yang memang bisa dihargai lebih tinggi ketimbang dia harus mengolah lahannya untuk pertanian selama sepuluh tahun ke depan.

"Masyarakat kami sekarang sudah mulai meninggalkan pertanian. Mereka lebih memilih lahannya menjadi beton, dalam arti lahannya dijual, karena bisa menghasilkan uang lebih banyak," kata pria yang kerap disapa Gus Muhdlor itu.

Itu sebabnya, Gus Muhdlor melanjutkan, sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB Sidoarjo cukup kecil. "Hanya 2% saja. Sementara yang lainnya disumbang oleh industri. Jadi, kami saat ini dalam posisi dilema," tutur dia. (RO/OL-09)

Kendati begitu, Gus Muhdlor menilai masih ada harapan pengembangan pertanian di wilayahnya. Hanya saja diubah, bukan lagi pertanian tradisional namun pertanian modern. "Kita harus move on. Bukan berarti meninggal pertanian, tapi mengubah mainset dan paradigma pertanian dari pertanian tradisional menjadi urban farming," harap dia.

Dalam kerangka itu, Gus Muhdlor menilai pentingnya peningkatan kapasitas penyuluh agar mampu mempertahankan sektor pertanian di Sidoarjo meski bermetamorfosa menjadi urban farming. "Sehingga penyuluhan dan pengembangan SDM sangat kami butuhkan. Kami ingin urban farming," tegasnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT