23 June 2021, 21:43 WIB

OJK: Perekonomian RI Masih dalam Pemulihan


Despian Nurhidayat | Ekonomi

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat data perekonomian domestik terkini masih menunjukkan pemulihan yang terus berlanjut. Kondisi itu sejalan dengan perbaikan ekonomi global, terutama di negara ekonomi utama, seiring laju vaksinasi dan penanganan pandemi covid-19.

Namun, beberapa downside risiko masih perlu diwaspadai. Seperti, potensi kenaikan laju kasus harian, karena varian baru di tengah kelangkaan stok vaksin. Berikut, tekanan inflasi dari sisi penawaran dan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) yang lebih dini.

"Di tengah perkembangan tersebut, pasar keuangan domestik dilaporkan tetap terjaga stabil. IHSG hingga 18 Juni 2021, tercatat ke level 6.007 atau menguat 1,0% mtd, sejalan dengan perkembangan pasar saham negara berkembang lainnya," ungkap Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan resmi, Rabu (23/6).

Baca juga: Jokowi: Tolong Masyarakat Tinggal di Rumah

Sementara itu, pasar SBN terpantau menguat dengan rerata yield SBN turun 12 bps di seluruh tenor. Investor nonresiden juga mencatatkan net buy sebesar Rp3,89 triliun di pasar saham dan Rp21,09 triliun di pasar SBN.

Kredit perbankan pada Mei 2021 meningkat sebesar Rp32,23 triliun. Namun, secara tahunan masih terkontraksi minus 1,23% yoy dengan nilai kontraksi yang semakin kecil. Perbaikan ini meneruskan tren positif selama empat bulan terakhir, seiring berjalannya stimulus pemerintah, OJK dan otoritas terkait lainnya.

"Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) kembali mencatatkan pertumbuhan double digit sebesar 10,73% yoy. Dari sisi suku bunga, transmisi kebijakan penurunan suku bunga telah diteruskan pada penurunan suku bunga kredit yang cukup kompetitif, khususnya untuk kredit korporasi," tutur Anto.

Baca juga: Menkeu: Hingga Mei 2021, Defisit APBN Capai Rp219 Triliun

Rata-rata tertimbang suku bunga modal kerja korporasi juga tercatat menurun dari 8,66% menjadi 8,52%. Itu dengan pengenaan premi risiko yang konsisten dengan rating masing-masing korporasi. Bahkan, sejumlah korporasi mendapatkan suku bunga kredit yang lebih rendah, dibandingkan yield surat utang korporasi untuk durasi proporsional.

Lalu, sektor asuransi mencatatkan penghimpunan premi pada Mei 2021 sebesar Rp12,5 triliun. Rinciannya, Asuransi Jiwa sebesar Rp7,8 triliun, Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar Rp4,7 triliun.

Baca juga: OJK Blokir 1.193 Pinjol Ilegal, Ada Praktik Intimidasi Hingga Teror

Selanjutnya, fintech P2P lending pada periode yang sama mencatatkan pertumbuhan baki debet pembiayaan cukup signifikan sebesar 69,1% yoy, menjadi Rp21,75 triliun. Piutang perusahaan pembiayaan masih berada di zona kontraksi dan mencatatkan pertumbuhan minus 13,7% yoy di Mei 2021.

Permodalan lembaga jasa keuangan masih pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio industri perbankan tercatat 24,38%, atau jauh di atas threshold. Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing tercatat sebesar 651% dan 336%. Begitu pun gearing ratio perusahaan pembiayaan sebesar 2,01x, atau jauh di bawah batas maksimum 10x.

"OJK secara berkelanjutan melakukan asesmen terhadap sektor jasa keuangan dan perekonomian, guna menjaga momentum percepatan pemulihan ekonomi nasional. Serta, terus memperkuat sinergi dengan stakeholder untuk menjaga stabilitas sistem keuangan," pungkasnya.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT