22 June 2021, 20:19 WIB

Blok Rokan Butuh Keandalan Pasokan Listrik


Mediaindonesia.com | Ekonomi

GUNA  meningkatkan produksi lifting minyak nasional PT Pertamina Hulu Rokan (PHR)  Wilayah Kerja (WK) Blok Rokan membutuhkan pasokan listrik sekitar 400 Megawatt (MW) dan uap sebesar ribu barel standar per hari (MBSPD).

Hal tersebut dikatakan oleh, Direktur Utama Pertamina Hulu Rokan (PHR), Jaffe Arizon Suardin, dalam webinar yang diselenggarakan oleh Ruang Energi, bertajuk “Keandalan Pasokan Listrik Jaga Produksi Blok Rokan”,Selasa (22/06) 

PHR  telah melakukan Perjanjian Jual Beli Listrik dan Uap dengan PT PLN (Persero) pada Febuari lalu, untuk menunjang produksi blok migas tersebut.

“Mudahan-mudahan ini bisa terus kita jalankan dan jadikan kerja sama antara PLN dan PHR,” ungkap Jaffe.

Ia menyebut, tidak hanya availability dari listrik dan uap, tentunya keandalan dari pasokan ini juga sangat penting untuk beberapa tahun kedepan. “Misi kami tentunya untuk meningkatkan produksi di Blok Rokan, sebab masih cukup banyak potensinya,” tuturnya.

Business Support Project Leader PHR, Danang Saleh, menegaskan kembali bahwa PHR sudah bekerja sama erat dengan PLN, sehingga rencana pasokan listrik dan uap ini bisa terlaksana dengan baik.

“PHR sendiri baru akan mengoperasikan Blok Rokan pada 9 Agustus 2021, pasca berakhirnya kontrak operator sebelumnya yakni PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). Jadi masih ada 1,5 bulan lagi untuk mengoperasikan Blok Rokan. Saat ini kami sedang masa transisi, mempersiapkan segala sesuatunya termasuk diskusi intensif dengan rekan-rekan kami yang nantinya akan memasok gas untuk dijadikan listrik dan uap bersama dengan PLN,” bebernya.

Ia mengatakan bahwa WK Rokan ini merupakan backbone  produksi minyak nasional. Pasalnya, Blok Rokan menjadi penyumbang lifting minyak sebesar 20% – 24% dengan produksi sekitar 160 ribu – 170 ribu Barel Per Hari (BPH). Di mana 11,942 MMBO komulatif sampai dengan 2020, cadangan sebesar 329 MMBO.

WK Rokan sendiri memiliki area sekitar 6,453 km2 dengan 104 lapangan minyak, terdiri dari 85 lapangan aktif dan lapangan utama, yakni Duri, Minas, Bangko, Balam South, Petapahan, yang tentunya membutuhkan supply listrik dan uap yang cukup banyak.

Supply listrik bisa dikatakan menjadi sembako (bahan pokok) bagi kami agar bisa beroperasi dengan baik. WK Rokan  membutuhkan pasokan listrik sebesar 400 Megawatt (MW) dan Uap sekitar 335 MBSPD,” jelasnya.

“Kami melanjutkan produksinya, dan tentunya kami ingin pasokan listrik dan uap ini benar-benar seamless (tidak ada kendala apapun), sehingga diharapkan operasional sumur-sumur kami dapat berjalan dengan baik,” sambung Danang.

Skema Bagi Hasil
Danang mengatakan, setelah nanti 9 Agustus 2021, End Of Contract(EOC) PSC (Profit Sharing Contract) yang telah lama dianut oleh operator sebelumnya yakni Cost Recovery, PHR akan menggunakan skema kontrak bagi hasil (Gross Split).

“Dengan PSC Gross Split ini kami dituntut untuk sangat-sangat efisien termasuk dalam hal penyediaan listrik, uap dan gas,” imbuhnya.

Dia berharap dengan proses alih kelola ini bisa berjalan dengan lancar, tanpa gangguan dan kendala.

Danang kembali menjelaskan, PHR telah memiliki beberapa strategi dalam meningkatkan produksi Blok Rokan, salah satunya yakni Infill Drilling; Work Over; Well Intervention; Eksplorasi; Optimasi Waterflood; Optimasi Steamflood, dan lain-lain. Tentunya ini membutuhkan dukungan dari sumber energi terutama listrik dan uap.

“Kami akan meningkakan produksi dengan bekerja secara massif dan agresif. Dengan begitu, kami akan tetap menjadi kontributor utama produksi minyak nasional, ini yang kami kejar dan merupakan amanat negara,” tutupnya. (RO/E-1)

BERITA TERKAIT