10 June 2021, 11:26 WIB

Negara-negara G7 Bersatu Atasi Pandemi Covid-19


 Fetry Wuryasti | Ekonomi

NEGARA-negara yang bergabung dalam kelompok G7 berjanji untuk memberikan setidaknya 1 miliar dosis vaksin tambahan untuk tahun depan untuk membantu vaksinasi terhadap 80% populasi orang dewasa di seluruh dunia. Anggota G7 beranggotakan Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, Jerman, Perancis, Italia, dan Kanada.

Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi KTT G7 di Inggris, para pejabat dikabarkan sedang menyusun beberapa dokumen yang diperlukan, termasuk rencana untuk mengakhiri era pandemi pada bulan Desember 2022.

"Dokumen tersebut belum selesai, namun tujuan baik tersebut menjadi sebuah awal yang baru, tolok ukur bagi G7 dimana mereka bersatu untuk mengakhiri penderitaan dunia di era pandemi korona," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (10/6).

Yang menjadi beberapa poin di sana adalah bahwa G7 berjanji untuk menjaga rantai pasokan global, termasuk di sektor tenaga surya dan garmen termasuk terkait dengan kerja paksa yang sering terjadi untuk kaum minoritas.

"Meskipun sebetulnya tampaknya G7 menyindir perlakukan Tiongkok terhadap masyarakat minoritas di Uyghur, Xinjiang. Selain menyindir Tiongkok terkait dengan perlakukan terhadap kaum minoritas, G7 juga menyerukan untuk dimulainya penelitian yang transparan mengenai asal usul virus Corona," kata Nico.

Hal ini yang menjadi perhatian terkait dengan Tiongkok yang sampai hari ini merahasiakan asal usul virus corona.

Tidak hanya berbicara mengenai menjaga rantai pasokan global, tapi G7 akan memastikan sistem keuangan dapat terjaga dengan baik secara jangka panjang, baik sebelum pandemi, maupun sesudah pandemi berakhir.

Untuk memastikan bahwa semua negara dapat berjalan dengan baik, G7 mendukung terkait dengan pembuatan sertifikat mengenai status vaksin di seluruh negara.

"Hal ini kami lihat untuk mengurangi pembatasan perjalanan yang selama ini masih diberlakukan oleh berbagai negara," kata Nico.

Oleh karena itu, apabila sertifikat vaksin dapat dibuat, tentu hal ini akan membuat perjalanan lintas negara akan mengalami kenaikan, yang bisa memberi angin segar ke sektor penerbangan.

Untuk perubahan iklim, G7 sepakat untuk mempercepat proses peralihan dari kendaraan yang dengan emisi menjadi tanpa emisi. Para pemimpin G7 juga berkomitmen untuk memenuhi target pendanaan terkait dengan perubahan iklim sebesar US$100 miliar, meski mereka tidak memberikan rincian terkait dengan rencana tersebut.

"Kami juga tidak melihat hal tersebut sebagai urgensi, karena di tengah situasi dan kondisi saat ini anggaran fiskal yang penuh dengan tekanan akibat Covid-19 justru menjadi sebuah fokus bagi masing masing negara," kata Nico.

Alih-alih untuk perubahan iklim, fiskal mungkin bisa difokuskan terlebih dahulu untuk dapat memberikan stimulus, khususnya bagi negara-negara miskin yang membutuhkan.

Terkait dengan perubahan iklim, G7 juga berjanji untuk membantu negara-negara berkembang untuk melakukan transisi dari karbon menjadi go green untuk membantu pengurangan emisi.

Sejauh ini kami melihat issue terkait dengan Corona mulai sedikit berkurang, karena sudah ada vaksinasi dan distribusi yang lebih banyak untuk dapat diberikan kepada masyarakat.

Tapi yang harus disadari juga adalah, melakukan vaksinasi terhadap populasi dunia itu tidak mudah. Dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat menggenapi rencana tersebut.

"Semoga kali ini G7 juga berkomitmen memastikan bahwa negara negara kecil dan berkembang mendapatkan vaksin," kata Nico. (Try/OL-09)

BERITA TERKAIT