10 June 2021, 11:25 WIB

Jangan Lihat Kualitas Produknya tapi Kegigihan Difabelnya


Ardi T Hardi | Ekonomi

WAJAH Lidwina Wurie tampak bahagia ketika Angki Yudistia, Staf Khusus Presiden Bidang Sosial, menerima kain batik pemberiannya. Bahkan, kain batik tersebut langsung dipakai Angki dengan melilitkannya ke pinggangnya saat itu juga.

"Kain batik tersebut spesial karena merupakan buatan tangan dari penyandang disabilitas," terang perempuan yang akrab disapa Wiwin usai Forum Group Discussion dengan judul UMKM Disabilitas Masa Depan Berbasis Ekonomi Kreatif dan Adaptif di Masa Pandemi Covid-19 di Jogja National Museum,
akhir pekan lalu.

Wiwin adalah pendiri Difabel Zone di Bantul. Dia memberdayakan difabel yang memiliki keterbatasan fisik, kebanyakan cerebral palsy. Mereka diberi ketrampilan membatik dan shibori.

Karena memiliki keterbatasan fisik, mereka harus berusaha lebih keras untuk membatik. "Mereka menggunakan tangan kiri atau kombinasi kuas dan canting," jelas dia.

Produk-produk yang dibuat merespon permintaan pasar. Misalnya, saat ini pihaknya memproduksi masker, tote bag, clutch, kotak pensil, dan masker case.

"Kita membuat barang kerajinan yang harganya masih terjangkau, yaitu di harga Rp30 ribu-150 ribu," kata dia. Selain itu, bagi teman-teman yang sudah mahir membatik, mereka diarahkan membuat batik di atas kain sepanjang 2 meter.

Ia menceritakan, akibat efek pandemi membuat kegiatan produksi menjadi terdampak. "Kami berusaha bertahan dengan cara titip jual dengan coffe shop yang ada di Jogja. Di sana kami titip tote bag dan clucth dengan lukisan kopi dan ikon-ikon di Jogja," kata dia.

Selain itu, barang-barang kerajinannya juga dititipkan di beberapa objek wisata dan artshop yang pariwisatanya sudah mulai bangkit. Khusus batik, ia menunggu waktu yang tepat untuk menjualnya lewat pameran, misalnya di Inacraft dan Warisan.

Tidak hanya dari sisi penjualan, keberadaan pengrajin pun juga terdampak. Sebelum pandemi, pihaknya membina 25 disabilitas. Namun, kini sebagian dari mereka sudah pulang ke rumah masing-masing karena khawatir dengan pandemi Covid-19.

"Yang ada di workshop sekarang tinggal 10 orang," kata dia. Namun, difabel yang tinggal di rumah, mereka tetap bisa mengerjakan barang barang kerajinan.

Ia menyebut, produk-produk dari Difabel Zone sudah berdiri sejak 2016 ini sempat dianggap remeh oleh pasar. Namun, Seiring perjalanan waktu, produk-produk dari Difabel Zone sudah disempurnakan sehingga respon pasar sudah baik.

Ia berharap, pandemi Covid-19 segera berlalu. Pasalnya, teman-teman difabel juga sangat senang jika mereka bisa berproduksi seperti semula. "Mereka sangat senang jika bisa mandiri, mendapat penghasilan sendiri, tanpa merepotkan orang lain," kata dia.

Kegiatan FGD semacam ini pun menjadi sarana yang baik bagi dirinya supaya akses ke pusat lebih mudah. Jika tidak ada pemerintah pusat yang menjembatani turun ke daerah, pihaknya kesulitan mengakses ke pemerintah pusat ataupun dinas terkait.

Staf Khusus Presiden Bidang Sosial, Angki Yudistia menyatakan, Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah menetapkan beragam kebijakan, yaitu tujuh peraturan pemerintah dan dua peraturan presiden.  Peraturan tersebut merupakan turunan dari UU Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Hal itu menunjukkan Presiden sangat peduli dengan teman-teman disabilitas agar bisa berkembang secara sustainable," kata dia.

"Artinya, teman-teman disabilitas tidak dipandang sebagai charity, tetapi human rights yang mendapat kesempatan secara inklusif," kata dia. Bahkan, pada 2021 ini, Presiden juga mengarahkan, semua kebijakan dapat diimplementasikan dengan tepat dan manfaatnya dapat dirasakan oleh penyandang disabilitas.

Dalam kegiatan FGD tersebut, pihaknya menjembatani teman-teman disabilitas, dinas di daerah, dan stakeholder-stakeholder terkait. Dengan demikian, mereka dapat bersinergi dan membangun ekosistem yang inklusif.

Dari sisi kualitas produk, lanjut dia, produk hasil teman-teman difabel, seperti seni kriya, sangat rapi.

"Yang dibutuhkan teman-teman disabilitas, mereka perlu banyak dibantu research and development yang dibutuhkan pasar. Dengan demikian, mereka dapat mensuplai produk-produk sesuai kebutuhan pasar," terang dia.

Salah satu pendiri M Bloc Space, Lance Mengong menyatakan akan membantu UMKM yang memberdayakan Disabilitas. Pihaknya akan membantu mengubah arah bisnis ke yang lebih baik.

Pihaknya memiliki tim inkubasi dan kurasi agar produk-produk dari disabilitas semakin bagus dan berkualitas. "Kita sama-sama belajar dan melihat potensi dari teman-teman disabilitas," tutup dia.(OL-13)

Baca Juga: Kemenperin Pacu IKM Berdaya Saing dan Berorientasi Lingkungan

 

BERITA TERKAIT