08 June 2021, 21:09 WIB

Pemerintah Bidik Rp22, 8 Triliun dari Proyek Migas Merakes  


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

PROYEK minyak dan gas (migas) Lapangan Merakes di wilayah kerja East Sepinggan, Kalimantan Timur, yang baru diresmikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pada Selasa (8/6), ditaksir bisa mendatangkan investasi US$1,6 miliar atau Rp22,8 triliun.

Proyek Lapangan Merakes yang dikembangkan dengan nilai investasi sebesar US$ 1,3 miliar atau Rp18,5 triliun itu akan dirancang menggunakan total kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 31,72% dalam menggerakkan pereekonomian nasional. 

"Proyek ini akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar US$1,6 miliar serta akan membantu pemenuhan pasokan kebutuhan gas pipa di Kalimantan timur serta kebutuhan LNG," jelas Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto saat peresmian proyek Lapangan Merakes secara virtual, Selasa (8/6).

Proyek yang dioperasikan Eni East Sepinggan Ltd sudah mulai onstream pada April 2021 dan akan memproduksi gas sebesar 368 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada puncak produksinya.

Baca juga : Lelang 7 Surat Utang, Pemerintah Raup Rp34 Triliun

Kementerian ESDM sendiri mencatat, produksi migas di Tanah Air baru mencapai 700 ribu barel per hari (millions of barrels of oil per day/MBOPD). Sementara, permintaan produk tersebut saat ini menembus 1,4 juta barel. Dwi juga mengatakan, kebutuhan minyak mentah di 2030 pun bakal melonjak hingga 1,8 juta barel per hari.

"Kalau (Kilang) Balikpapan selesai, kita bisa nambah 1 juta sampai 1,2 juta barel per hari. Pasalnya, permintaan di 2030 lebih dari 1,8 juta barel per hari. Dengan begitu, target 1 juta dibutuhkan negara. Ini harus dikerjakan bersama-sama," ucap Kepala SKK Migas itu.

Sementara, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan, pemerintah masih optimis dapat memproduksi minyak mentah dengan 1 juta barel minyak per hari (Millions of Barrels of Oil Per Day/MBOPD) pada 2030. Namun, bayangan akan impor produk tersebut dikatakan masih ada.

"Masih ada kemungkinan kita bisa memproduksi 1 juta barel per hari Sekarang produksi minyak kita masih 700 barel per hari, kecenderungan ini kalau kita tidak melakukan apa-apa akan turun terus dan ini menyebabkan impor," tandas Arifin. (OL-7)

BERITA TERKAIT