08 June 2021, 17:06 WIB

ESDM : Target Produksi 1Juta Barel Minyak Masih Dibayangi Impor


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan, pemerintah masih optimistis dapat memproduksi minyak mentah dengan 1 juta barel minyak per hari (Millions of Barrels of Oil Per Day/MBOPD) pada 2030. Namun, bayangan akan impor produk tersebut dikatakan masih ada.

Pada tahun ini, ESDM menargetkan lifting (produksi siap jual) sebesar 1.712 Million Barrel Oil Per Day (MBOPD), dengan rincian minyak bumi sebesar 705 MBOPD dan lifting gas bumi sebesar 1.007 MBOPD.

"Masih ada kemungkinan kita bisa memproduksi 1 juta barel per hari Sekarang produksi minyak kita masih 700 barel per hari, kecenderungan ini kalau kita tidak melakukan apa-apa akan turun terus dan ini menyebabkan impor," kata Arifin usai peresmian proyek migas Lapangan Merakes, secara virtual, Selasa (8/6).

Pemerinta pun, lanjut Arifin, tengah berupaya beralih soal penggunaan energi fosil menuju energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai substitusi impor kedepannya. ESDM mencatat, Indonesia memiliki potensi sumber daya EBT lebih dari 400 GW, dari jumlah tersebut baru dimanfaatkan sebesar 2,5% atau 10 GW.

"Selain mengurangi impor minyak, kami juga ke depan mengembangkan energi baru dan terbarukan antara lain untuk sektor transportasi," jelas Arifin.

Baca juga : Ada Temuan Cadangan Migas di Kalimatan, SKK Migas: Segera Dibor

Arifin pun menyebut pemerintah akan mengoptimalkan keberadaan kilang yang ada di Tanah Air. Seperti, proyek pengembangan minyak dan gas (migas) Lapangan Merakes di Wilayah Kerja East Sepinggan, Kalimantan Timur yang beroperasi sejak April lalu.

"Impor minyak ini kami harapkan bisa kurang, kemudian kita opimalkan kilang kita. Di sektor gas kita mempunyai potensi yang banyak. Ini yang harus kita upayakan untuk optimalisasi, arena gas ini juga masih masuk dalam sektor energi bersih," urai Menteri ESDM.

Sementara, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menyebut, dengan naiknya harga minyak dunia, bahkan pada minggu ini berada di kisaran US$ 70 per barrel, diharapkan menjadi angin segar bagi keberlangsungan upaya meningkatkan investasi hulu migas.

“Tentu saja, tantangan akan selalu ada, oleh karena itu bergandeng tangan demi tercapainya visi Indonesia di 2030, yaitu produksi minyak 1 juta barrel dan gas 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD)," kata Dwi. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT