04 June 2021, 07:00 WIB

Jadi Peringkat Pertama Konsumsi Produk Halal, Ini harus Diubah


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

KEMENTERIAN  Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara konsumen makanan halal dunia dengan jumlah konsumsi mencapai US$144 miliar dari total konsumsi makanan halal global US$1,17 triliun, menurut laporan The State of Global Islamic Economy 2020/2021.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih menegaskan harus ada perubahan agar Indonesia tak lagi menjadi konsumen semata produk halal, melainkan harus bisa menjadi pelaku industri terbesar produk halal dunia.

"Kita nomer satu konsumen makanan halal dunia, oleh karena itu melihat ini kami menginginkan (Indonesia) ada perubahan, jangan jadi pasar konsumen saja. Harus jadi pelaku (industri)," ujarnya dalam acara Indonesia Industrial Moslem Exhibition atau ii-Motion 2021 secara virtual, Kamis (3/6).

Selain itu Gati juga menjelaskan, masih dari laporan yang sama, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara konsumen kosmetik halal, dengan jumlah konsumsi US$4 miliar dari total konsumsi farmasi global sebesar US$66 miliar.

Lalu, RI berada diposisi kelima sebagai negara pasar konsumen fesyen muslim dunia dengan jumlah konsumsi US$16 miliar dari total US$277 miliar konsumsi busana muslim global.

"Kami enggak mau Indonesia jadi pasar saja. Kami mau jadi pelaku. Dengan data itu, kami enggak mau lihat data itu lagi. Kita jauh-jauh hari mempersipkan ini agar di 2024 menjadi lebih baik lagi," tegas Gati.

Dirjen IKMA Kemenperin itu menuturkan, lewat Indonesia Industrial Moslem Exhibition (ii-Motion) 2021 yang berlangsung dari 3 hingga 5 Juni secara virtual, diharapkan dapat memperluas pemasaran produk halal Indonesia di mata dunia.

Gati mendorong agar pelaku industri kecil menengah (IKM) terlibat dalam memproduksi produk halal yang berkualitas. Pasalnya, Kemenperin menyebut, jumlah belanja masyarakat muslim dunia diperkirakan akan meningkat hingga mencapai US$3,2 triliun pada 2024.

"Ini yang kami dorong agar IKM kita mau ikut ambil bagian di dalamnya, memproduksi produk halal yang berkualitas. Saya yakin kita bisa mengambil bagian pasar produk halal, paling tidak menjadi pemain utama di Asia. Perlu dukungan semua pihak," tandas Gati. (Ins/E-1)

BERITA TERKAIT