30 May 2021, 19:53 WIB

Indef : Gawat, Jika Komisaris BUMN Tak Kredibel


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

EKONOM Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira berpendapat posisi komisaris di perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bukan sembarangan jabatan yang diemban oleh satu pihak. Ada beberapa hal yang riskan bila komisaris BUMN tak paham dengan perusahaan yang didudukinya.

Bhima menuturkan, setidaknya seorang komisaris perusahaan BUMN harus paham membaca laporan keuangan, paham seluk-beluk industri dan paham mempraktikan good corporate governance atau tata kelola yang baik.

"Kalau latar belakangnya kejauhan maka nanti juga berefek kepada kinerja BUMN. Misalnya ada fraud, tapi komisaris tidak paham cara mengawasinya atau justru diam saja. Itu gawat juga," ungkap Bhima kepada Media Indonesia, Minggu (30/5).

Pengawasan komisaris juga dianggap penting terlebih jika perusahaan BUMN punya anak usaha yang sudah melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO). Hal itu, lanjut Bhima, pasti akan mempengaruhi kepercayaan investor jika ada pandangan pejabat komisaris yang dinilai tak kredibel.

"Yang ada dibenak investor seperti, ini kok menempatkan orang yang tidak tepat, ya sudah saya jual sahamnya dan cari perusahaan lain," kata Bhima.

Berikutnya, ucap Bhima, masalah lainnya ialah soal trust atau kepercayaan yang dibangun dari karyawan ke direksi dan komisaris perusahaan BUMN itu. Jika jajaran puncak saja dianggap tak paham bisnis, bisa saja diremehkan oleh karyawan perusahaan itu sendiri.

"Apalagi enggak paham bisnis, enggak punya visi, wah repot sekali. Karyawan bisa alami demotivasi. Buat apa kerja keras, naik jenjang karier kalau karier puncaknya saja di isi orang yang tidak kompeten, pikir mereka. Ini kan enggak main-main ya efeknya soal trust," tutur Bhima.

Terpisah, Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas berpendapat penunjukan pejabat direksi hingga komisaris di perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kental dengan nuansa balas budi ketimbang kompetisi.

Belakangan ini, nama Abdee Negara Nurdin atau lebih dikenal dengan sapaan Abdee Slank menjadi sorotan publik karena masuk dalam jajaran komisari baru PT Telkom. Hal itu berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Telkom yang digelar di Jakarta, Jumat (28/5).

"Kami lihat akhir-akhir ini banyak pimpinan dari BUMN yang tidak mumpuni. Penunjukannya terkesan lebih banyak bernuansa sebagai balas budi karena yang bersangkutan telah berkontribusi di dalam Pilpres (2019) atau pemilu yang lalu," ungkapnya dalam keterangan yang diterima, Minggu (30/5). (Ins/OL-09)

BERITA TERKAIT