28 May 2021, 21:30 WIB

Kadin : 80% Perusahaan Besar Alami Penurunan Pendapatan 


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

KETUA Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan akibat pandemi, 80% perusahaan besar mengalami perubahan pendapatan atau mengalami penurunan pendapatan signifikan. 

Sedangkan untuk perusahaan seperti usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga dilaporkan mengalami pendapatan yang anjlok, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020.

"Ini 80% perusahaan besar mengalami penurunan pendapatan. Kalau untuk UMKM juga mengalami penurunan 78%. Tapi kendala keuangan itu UMKM lebih besar ketimbang perusahaan besar," jelas Rosan dalam dalam webinar Vaksin dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Jumat (28/5).

Rosan juga menjabarkan, para pengusaha pun mengambil langkah taktis seperti pengurangan jumlah pegawai. Adapun persentase perusahaan yang mengurangi tenaga kerja paling banyak ialah pada industri pengolahan dengan 52,23%. Lalu diikuti sektor konstruksi dengan 51,37%, sektor akomodasi makan minum dengan 50,52% dalam hal pengurangan karyawannya.

Lalu ada sektor air dan pengelolaan sampah dengan presentase 18,79%, sektor jasa keuangan dengan 18,26% dan sektor listrik dan gas dengan 15,30%

Baca juga : Kolaborasi Bantu UMKM Go Digital

Selain itu Rosan juga menerangkan ada peningkatan tajam dari sektor ketenagakerjaan yang hampir mencapai 3 juta pekerja berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Dari Agustus 2019 sebesar 7,1 juta orang yang menganggur menjadi 9,77 juta pada Agustus 2020.

Sebelumnya, BPS juga mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2021 mencapai 8,75 juta orang. Angka itu bertambah 1,82 juta orang dari jumlah pengangguran Februari 2020 yang hanya 6,93 juta orang.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan kenaikan jumlah pengangguran disebabkan pandemi covid-19. Apalagi pada Februari 2020, wabah covid-19 belum merebak dan memberikan dampak negatif bagi perekonomian Indonesia.

"Perlu diingat, pada Februari tahun lalu, covid-19 itu belum ada. Sedangkan Februari tahun ini covid-19 membayang-bayangi," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (5/5) lalu. (OL-7)

BERITA TERKAIT