27 May 2021, 16:58 WIB

DPR Minta Proyeksi Produksi dan Lifting Migas Lebih Realistis


Fetry Wuryasti | Ekonomi

KOMISI VII DPR RI meminta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk lebih realistis dalam menyusun proyeksi produksi dan lifting migas.

Sebab, perkiraan lifting dan produksi migas menjadi indikator asumsi makro dan menentukan jumlah anggaran dalam postur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Di sisi lain, dari informasi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), hampir tidak ada yang menunjukan tanda peningkatan produksi dan lifting migas pada tahun depan. Sebaliknya, produksi minyak dan gas bumi berpotensi turun, karena natural declining.

Baca juga: Kabar Baik, BP bakal Tingkatkan Investasi di Tangguh US$4 Miliar

"Komisi VII DPR RI mendesak Kepala SKK Migas untuk membuat prognosa lifting migas secara akurat. Menggunakan data mutakhir, sehingga target lifting migas pada 2022 menjadi realistis," ujar pimpinan rapat Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto, Kamis (27/5)

Legislatif juga meminta SKK Migas agar berupaya maksimal untuk menekan gap lifting migas dari proyeksi target 2021 dan penurunan alami lifting migas. Mengingat, SKK Migas memiliki visi untuk mencapai 1 juta barel per hari (bph).

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengungkapkan target produksi minyak pada akhir tahun menjadi 682 ribu barel per hari (bph). Angka ini lebih rendah dari target APBN 2021 sebesar 705 ribu bph.

Baca juga: Menteri ESDM: Kejayaan Migas Sudah Berlalu

Proyeksi produksi dan lifting gas di akhir tahun juga mengalami sedikit penurunan dari target APBN 2021, yaitu dari 6.638 mmscfd (juta standar kaki kubik per hari) menjadi 5.527 mmscfd. Target ini diturunkan setelah mengupayakan banyak hal dengan KKKS di Indonesia.

"Kami masih melihat average setahun, untuk outlook 2021 itu 682 ribu bph. Mudah-mudahan kami bisa kembalikan ke angka 700 ribu bph di akhir tahun. Pada 2022 diperkirakan lifting minyak bumi naik menjadi 704 ribu bph," papar Dwi.

Dwi mengakui adanya keraguan terkait realisasi target produksi dan lifting minyak akhir tahun ini. Mulai dari investasi sektor hulu migas yang turun, hingga entry point di awal tahun yang produksinya hanya 699 ribu bph.

Alasan lain, lanjut dia, kegiatan pengeboran banyak yang mundur. Sebab, pada kuartal I 2021 masih proses pengadaan dan persiapan. Hal ini membuat jadwal pengeboran terpaksa geser ke kuartal II 2021 dan kuartal III 2021.

Baca juga: Ini Syarat KKP untuk Izin Pengeboran Migas di Laut

Kendala lain, yakni unplanned shutdown 6,1 ribu bph dan 90 mmscfd. Lalu, mundurnya kontribusi sumur baru karena keterlambatan eksekusi kegiatan pengeboran, yaitu 3,9 ribu bph dan 1 mmscfd. Serta, mundurnya proyek onstream beberapa lapangan sebesar 0.8 ribu bph dan 1 mmscfd.

Hingga kuartal I-2021, realisasi lifting minyak sebanyak 676,2 ribu bph atau 96% dari target APBN sebesar 705 ribu bph. Sementara itu, realisasi lifting gas lebih tinggi sedikit, yaitu 5,539 mmscfd di kuartal I 2021 atau 98,2% dari target APBN sebesar 5.638 mmscfd.

SKK Migas juga memproyeksikan lifting minyak pada 2022 mencapai 704 ribu bph, atau lebih rendah dari target dalam APBN 2021 sebesar 705 ribu bph. Untuk lifting gas bumi pada 2022, diperkirakan mencapai 1,04 juta boepd, atau naik dari perkiraan lifting gas hingga akhir 2021 sebesar 987 ribu boepd.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT