25 May 2021, 15:46 WIB

BI Masih Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,50%


Despian Nurhidayat | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%. Berikut, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. 

"Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah. Serta upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mempercepat upaya pemulihan ekonomi," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers vitual, Selasa (25/5).

Perry menambahkan bahwa pihaknya terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial akomodatif. Berikut, mempercepat digitalisasi sistem pembayaran di Indonesia. Tujuannya memperkuat upaya pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi covid-19.

Baca juga: Ada Silpa Rp254 Triliun, Kemenkeu: Kas Pemerintah Aman

Kebijakan tersebut dilakukan melalui berbagai langkah. Di antaranya, melanjutkan kebijakan nilai tukar rupiah untuk menjaga stabilitas yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar.

"BI juga akan melanjutkan penguatan strategi operasi moneter untuk memperkuat efektivitas stance kebijakan moneter akomodatif. Melanjutkan kebijakan transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan dengan penekanan pada komponen SBDK (cost of fund, overhead cost dan profit margin) dan masih lambatnya penurunan suku bunga kredit baru," jelas Perry.

Selain itu, Bank Sentral melakukan penyempurnaan kebijakan rasio kredit UMKM menjadi kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM). Dalam hal ini, melalui perluasan mitra bank dalam penyaluran pembiayaan inklusif, sekuritisasi pembiayaan inklusif dan model bisnis lain.

BI akan menurunkan batas maksimum suku bunga kartu kredit dari 2% menjadi 1,75% per bulan. Kebijkana itu dalam rangka mendukung transmisi kebijakan suku bunga dan efisiensi transaksi nontunai yang berlaku pada 1 Juli 2021.

"Lalu, memperluas pendalaman pasar uang melalui percepatan pendirian Central Counterparty (CCP) dan standardisasi transaksi repo yang dapat dikliringkan melalui CCP," paparnya.

Baca juga: BI tak Punya Ruang Lagi untuk Pangkas Suku Bunga

"Terakhir, memfasilitasi penyelenggaraan promosi perdagangan dan investasi, serta melanjutkan sosialisasi penggunaan Local Currency Settlement (LCS). Pada Mei dan Juni, akan diselenggarakan promosi investasi dan perdagangan di Singapura, Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, Meksiko, Inggris, Swedia, Norwegia dan Prancis," imbuh Perry.

Pihaknya pun terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Termasuk, melalui implementasi Paket Kebijakan Terpadu KSSK untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

"Koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait juga terus diperkuat. Untuk mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan dan meningkatkan kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor prioritas," pungkasnya.(OL-11)
 

 

 

 

 

BERITA TERKAIT