05 May 2021, 02:37 WIB

Equity Crowdfunding Makin Dilirik Pelaku Usaha untuk Pendanaan


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

PLATFORM teknologi finansial (fintech) berbasis Equity crowdfunding di Indonesia semakin diminati pelaku usaha. Hal itu setidaknya terlihat dari performa PT. Numex Teknologi Indonesia yang mengembangkan platform LandX dalam ekosistem Equity crowdfunding di Indonesia. 

Platform yang baru sekitar 4 bulan beroperasi dalam ekosistem crowdfunding itu, sudah bisa menyalurkan pendanaan hingga Rp52.09 miliar ke pelaku usaha yang terdaftar (listing) di dalam platformnya. Sementara pengguna (user) dalam platform LandX yang juga telah mendaftar sebagai investor mencapai lebih dari 35 ribu. 

"LandX ini mempertemukan para pemilik bisnis dan investor. Jadi investor disini membeli sahamnya, keuntungannya ada capital gain kenaikan harga bisnis dan ada dividen dari performance keuntungan dari bisnis tersebut," ujar Romario.Sumargo, Co-founder LandX dalam diskusi virtual, Selasa (4/5). 

Equity crowfunding merupakan pendanaan berbasis urunan, jadi pelaku bisnis mendapatkan dana dari para investor yang tertarik. Memiliki skema kerja yang mirip dengan pasar saham, dana partisipasi dari investor itu kemudian dikonversi menjadi persentase kepemilikan saham.

Romario menjelaskan, dari jenis bisnis, equity crowfunding menyediakan ruang pendanaan bagi usaha yang bukan perusahaan publik dan masih bersifat tertutup.

Baca juga : Hingga April, Serapan Anggaran Kementerian PUPR Capai Rp33,33 T

Selain itu jumlah maksimal pendanaan yang bisa diterima perusahaan dibatasi dengan maksimal nominal Rp10 miliar.

Salah satu perusahaan UKM yang telah berhasil mendapatkan pendanaan dari equity crowfunding adalah bisnis kuliner Dragon Hot Pot. Dalam waktu 1,5 jam, pemilik usaha Dragon Hot Pot mendapatkan pendanaan dengan nominal sebesar Rp10 miliar dari 337 investor dan menjadi usaha yang paling cepat mendapat pendanaan dari aplikasi equity crowfunding di Indonesia.

Romario menegaskan, pihaknya memiliki persyaratan ketat terkait keberlanjutan, integritas, dan potensi profitabilitas perusahaan sebelum bisa mendapatkan pendanaan dari platform LandX. Proses seleksi, lanjut Romario bisa mencapai 1-1.5 bulan. Saat ini, ungkapnya, asa sejumlah sektor bisnis yang sudah bisa mendapatkan pendanaan LandX, termasuk UKM. 

"Kita jadi cari bisnis yang berkelanjutan yang setidaknya punya biaya untuk menutup rutinitas bisnisnya. Jadi yang usaha muncul karena populer dan viral gitu kita jarang terima untuk pendanaan," kata Romario.

Skema pendanaan UKM lewat metode Equity Crowfunding di Indonesia mengacu pada Pasal 23 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 37 Tahun 2018 tentang Layanan Urun Dana melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi atau Equity Crowdfunding (“POJK 37/2018”). (RO/OL-7) 

BERITA TERKAIT