19 April 2021, 14:26 WIB

Jaga Nilai Tukar Rupiah, BI Perlu Tahan Suku Bunga


Fetry Wuryasti | Ekonomi

BANK Indonesia akan mengumumkan hasil rapat kebijakan moneter pada Selasa (20/4) besok. Bank Sentral dinilai perlu mempertahankan suku bunga acuan pada 3,5%. Tujuannya, menjaga stabilitas keuangan dan nilai tukar, berikut mendukung pemulihan ekonomi.

Hal ini berdasarkan pandangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Dengan berlanjutnya tren pemulihan domestik, semakin memperbesar momentum potensi pemulihan ekonomi. Tentunya didorong percepatan vaksinasi covid-19 dan stimulus pemerintah.

Kendati demikian, tidak seperti biasanya, inflasi tetap rendah pada periode awal Ramadan. Dari sisi eksternal, ketidakpastian sebagian besar berasal dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Ekonom: Ruang Pemotongan Suku Bunga BI kian Terbatas

Perkembangan vaksinasi, pasar tenaga kerja yang membaik dan inflasi yang lebih tinggi dari proyeksi, membawa kabar baik tentang perekonomian. Hal itu mendorong investor untuk menempatkan aset ke instrumen safe haven. Kondisi ini memberikan tekanan pada rupiah yang terdepresiasi menjadi Rp14.572 terhadap dolar AS pada akhir Maret.

"Meski inflasi masih rendah, BI perlu mempertahankan suku bunga acuannya di 3,5% pada bulan ini. Untuk menjaga stabilitas nilai rupiah dan mendukung momentum pemulihan ekonomi," ujar ekonom dari LPEM FEB UI Teuku Riefky, Senin (19/4).

Angka inflasi belum cukup menggambarkan terjadinya pemulihan ekonomi selama awal 2021. Masa libur akhir tahun yang sudah selesai, diiringi dampak pandemi covid-19 yang masih berjalan, secara signifikan mempengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Baca juga: Menkeu Ingatkan Refocusing TKDD Bantu Pemulihan Ekonomi

Terlihat nilai inflasi masih mencatatkan tren penurunan pada Maret 2021. Setelah sebelumnya juga menunjukkan pola yang sama pada Februari 2021. Nilai inflasi tahunan pada bulan ini berada pada angka 1,37% (yoy), atau sedikit lebih rendah dibandingkan angka bulan lalu, yakni 1,38% (yoy).

Pada basis yang sama yakni angka tahunan, inflasi inti tercatat turun dari 1,53 (yoy) pada bulan lalu, kemudian menjadi 1,21% (yoy) pada bulan ini. Beberapa faktor yang umumnya mendorong kenaikan inflasi, seperti persiapan menyambut Ramadan, ternyata belum memberikan dampak pada angka inflasi.

"Namun, dimulainya Ramadan dan persiapan menjelang Idulfitri pada Mei diharapkan mendorong kenaikan angka inflasi," papar Riefky.(OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT