16 April 2021, 17:30 WIB

Yield Obligasi AS Turun, Rupiah Menguat


mediaindonesia.com | Ekonomi

NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat pada perdagangan akhir pekan. Kondisi itu dipicu turunnya imbal hasil (yield) obligasi AS dan membaiknya ekonomi Tiongkok.

Rupiah ditutup menguat 50 poin atau 0,34% ke posisi Rp14.565 per dolar AS. Pada hari sebelumnya, ripuah ditutup pada posisi Rp14.615 per dolar AS.

Analis HFX International Berjangka Ady Phangestu menilai sentimen positif terlihat dari penguatan Wall Street hingga mencetak rekor tertinggi, yang diikuti pergerakan bursa Asia pada Jumat (16/4) pagi.

Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia per Februari US$422,6 Miliar

"Selain itu, imbal hasil obligasi AS sedang mengalami penurunan dan berada di level terendah satu bulan, yaitu 1,53%. Ini bisa memicu terjadinya capital inflowbagi Indonesia, yang dapat menjadi tenaga bagi rupiah," tutur Ady, Jumat (16/4).

Dalam sepekan terakhir, rupiah masih menguat sekitar 0,11% dalam perdagangan yang mendatar. Walaupun sempat melemah hingga Rp14.645 per dolar AS. Harga Rp14.500 per dolar AS masih menjadi harga acuan untuk sementara waktu sebagai harga tengah.

"Posisi hari ini berada di kisaran Rp14.560. Rentang harga untuk pekan depan diperkirakan berada di 14.500-Rp14.750," pungkasnya.

Baca juga: Menkeu Ingatkan Refocusing TKDD Bantu Pemulihan Ekonomi

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menyebut selain penurunan imbal hasil obligasi AS, penguatan rupiah didukung neraca perdagangan Maret 2021 yang mengalami surplus.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan RI pada Maret 2021 surplus US$1,57 miliar, dengan total nilai ekspor US$18,35 miliar dan impor US$16,79 miliar.

Perekonomian Tiongkok juga kembali melanjutkan momentum pertumbuhan, dengan kinerja pada kuartal I 2021 sebesar 18,35. Sebelumnya, pada kuartal IV 2020, ekonomi Tiongkok tercatat 6,5%.(Ant/OL-11)

 

 

 

 

BERITA TERKAIT