15 April 2021, 20:39 WIB

Indonesia Jangan Bergantung pada Komoditas Ekspor Tertentu


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

HEAD of the Department of Economics, Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menuturkan, peningkatan ekspor yang terjadi selama triwulan I 2021 dapat berdampak baik bagi perekonomian. Hanya, dalam jangka panjang Indonesia tidak bisa terus mengandalkan ekspor yang bergantung pada komoditas tertentu.

"Ekspor nonmigas selama triwulan I ini itu sekitar US$16,5 miliar dan 25%-nya datang dari palm oil serta besi dan baja. 25% itu sangat signifikan sekali kenaikan dari dua komoditas tersebut. Memang karena harga dari dua komoditas tersebut, iron and steel maupun palm oil itu meningkat tajam," tuturnya saat dihubungi, Kamis (15/4).

Kelapa sawit misalnya sejak awal 2021 harganya selalu mengalami peningkatan. Bahkan, kata Yose, beberapa waktu lalu harga crude palm oil (CPO) Indonesia melewati US$1.000 per ton. Ini menurutnya merupakan peningkatan luar biasa.

Oleh karenanya, meski volume eskpor CPO Indonesia tidak meningkat, tapi nilai ekspor akan bertambah tinggi lantaran harganya meningkat. "Jadi kalau pun volumenya itu tidak meningkat, nilainya tetap akan meningkat besar. Kelapa sawit ini penyumbang terbesar untuk eskpor kita," terang Yose.

Sama halnya dengan komoditas besi dan baja. Yose bilang, memang tidak ada preferensi harga pasti bagi komoditas itu. Namun di lapangan, harga besi dan baja turut meningkat.

Indonesia boleh jadi beruntung lantaran Australia sebagai pemasok besi dan baja tengah dalam kondisi perang dagang dengan Tiongkok sebagai importir utama komoditas itu. Alhasil, Negeri Tirai Bambu mencari penyuplai lain, yakni Indonesia.

"Mereka memang sedang terlibat perang dagang dan mungkin memang tidak seheboh AS-Tiongkok. Dan ini menguntungkan bagi Indonesia, karena biasanya pemasok besi dan baja itu adalah Australia ke Tiongkok. Sekarang berganti menjadi Indonesia. Kita diuntungkan, karena harganya sedang naik, dan ada permintaan tetap," kata Yose.

Kendati demikian, hal-hal yang membuat nilai ekspor Indonesia meningkat di triwulan I 2021 ini didominasi oleh faktor permintaan, eksternal, pasar. Peningkatan ekspor yang dialami Indonesia bukan karena terjadi peningkatan produksi.

Hal itu yang menurut Yose perlu diperhatikan pemerintah selaku pengambil kebijakan. "Kita tidak bisa mengandalkan perang dagang kedua pihak terus menerus, tentu ini tidak terlalu bagus juga kalau hanya fokus kepada komoditas tersebut. Nanti kejadiannya seperti 2004-2012 yang namanya bom komoditas," imbuh Yose.

"Jadi, kenaikan (ekspor) ini ada bagusnya, tetapi juga jangan kita jadikan sebagai pijakan," sambungnya. (E-3)

BERITA TERKAIT