14 April 2021, 23:10 WIB

Bendungan Sukamahi Juga Berfungsi Jadi Taman Ekowisata


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

KEMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah mengembangkan konsep Ecotourism Park atau Taman Ekowisata dengan memanfaatkan kawasan konservasi pada Bendungan Sukamahi, di Kabupaten Bogor.

PUPR menyebut, pembangunan bendungan nantinya tidak hanya sebagai bagian dari rencana induk (master plan) pengendalian banjir Ibu Kota Jakarta, tetapi juga pengembangan ekowisata kawasan Puncak Bogor.

"Tujuan utama konsep ini adalah mempromosikan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan dengan mengembangkan potensi yang ada dengan cara yang berkelanjutan," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangannya, Rabu (14/4).

Konsep Taman Ekowisata Bendungan Sukamahi akan memanfaatkan kawasan terpadu pada bendungan itu sendiri seperti konservasi alam pada area sabuk hijau atau greenbelt, yang dikembangkan menjadi forest conservation park atau hutan konservasi.

Selain itu PUPR menerangkan, pada kawasan akan dilengkapi fasilitas garden in the forest, trail/track, rest area, dek wisata, toilet, signage dan pusat informasi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata, seperti outdoor recreation, bushwalking, jogging, cycling, dan sebagainya. 

Baca juga : Tingkatkan Pelayanan, UPT Pelatihan Diminta Ciptakan Inovasi Baru

Taman Ekowisata Bendungan Sukamahi dikembangkan sebagai pusat budidaya tanaman hydrophonik dan aquaphonic sekaligus menjadi tempat wisata edukasi dengan suasana alam yang indah (suhu udara sejuk dengan panorama Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Salak). 

Sementara, soal pemanfaatan sebagai pengendali banjir, PUPR akan menerapkan konsep bendungan kering/dry dam, sehingga pada saat awal musim hujan, elevasi muka air waduk diatur berada pada elevasi yang rendah/kosong dan saat terjadi hujan debit air dapat diteruskan langsung ke hilir. 

Bendungan Sukamahi disebutkan memiliki volume tampung sebesar 1,68 juta m3 dan luas area genangan 5,23 hektar. Pembangunan bendungan ini direncanakan sejak tahun 1990-an dan mulai dibangun tahun 2017 dengan progres konstruksi hingga 9 April 2021 mencapai 71,21%. 

Pekerjaan proyek itu dikatakan tengah berjalan meliputi struktur beton pada bangunan pelimpah (clearing dan pengecoran), timbunan pada bendungan utama, pekerjaan hidromekanikal, dan kelengkapan fasilitas umum. 

Bendungan kering Sukamahi memiliki kontrak proyek senilai Rp 447,39 miliar, ditandatangani pada 20 Desember 2016 dengan kotraktor PT. Wijaya Karya-Basuki KSO. Bendungan ini bukan untuk keperluan irigasi atau air baku, namun untuk meningkatkan kapasitas pengendalian banjir. (OL-7)

BERITA TERKAIT