14 April 2021, 10:09 WIB

Investor, Bila Saham Terlalu Beresiko Masuklah ke Reksa Dana


Mediaindonesia.com | Ekonomi

TAHUN ini diprediksi kondisi perekonomian akan membaik. Program vaksinasi terus berjalan, sehingga diharapkan dapat menjinakkan pandemi. Sehingga ekonomi bisa meningkat. Salah satu indikator meningkatnya ekonomi adalah bursa saham.

Presiden Direktur Syailendra Capital Fajar R Hidayat melihat  potensi upside Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  masih cukup besar. “Syailendra memperkirakan pada akhir tahun IHSG akan berada di level 6.900,” kata Fajar dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/4), 

Bahkan, Fajar menyebut IHSG pada level tertingginya bisa saja bergerak ke level 7.000 - 7.200. Ia memproyeksikan level ini justru akan terjadi pada kuartal III-2021. Sebelum akhirnya perlahan terkoreksi dan bergerak ke arah 6.900 pada akhir tahun. 

Menurutnya, pada kuartal III-2021, pergerakan pasar saham juga akan mengalami perubahan. Sjauh ini pasar saham masih digerakan oleh sentimen maupun berita saja. Sehingga, ketika ada sentimen positif, maka pasar akan menguat, begitu pun sebaliknya. 

Namun, memasuki semester II-2021, pasar lebih akan didorong oleh fundamental saham-saham.  

“Kinerja emiten sebenarnya sejauh ini belum bisa dinilai, karena laporan keuangan full year 2020 ataupun kuartal I-2021 masih sangat dipengaruhi pandemi dan masa transisi. Tapi, untuk laporan keuangan kuartal II-2021, baru terlihat hasil dari konsistensi strategi masing-masing perusahaan dalam menyiasati dampak pandemi,” jelas Fajar

Nah, jika investasi saham dianggap terlalu berisiko, investor bisa mencoba masuk ke reksadana.  Syailendra ada empat produk reksadana yang disiapkan, yakni reksadana pendapatan tetap, campuran dan reksadana indeks.

Syailendra Capital sendiri merupakan salah satu pemain besar di industri reksadana. Dari total dana kelolaan alias asset under management, Syailendra masuk 10 besar di industri reksadana. 

Fajar memprediksi, tahun ini pertumbuhan industri reksadana akan kembali mulai normal. Ia memperkirakan, pertumbuhan industri reksadana pada tahun ini akan berada di kisaran 5%-10%. 

Menurutnya, jenis reksadana yang berpotensi tumbuh paling optimal adalah, reksadana saham, reksadana indeks, reksadana pendapatan tetap, lalu reksadana pasar uang.

PT Syailendra Capital menyiapkan beberapa produk baru reksadana berbasis ritel di tahun ini. Produk ini dibentuk untuk menangkap peluang pertumbuhan investor ritel yang cukup pesat belakangan ini.

Untuk reksadana indeks, perusahaan ini juga menyiapkan beberapa produk RD index. Fajar menambahkan, saat ini pasar reksadana indeks masih punya ruang yang sangat besar untuk terus tumbuh. Fajar mengatakan, reksadana indeks menawarkan transparansi yang akan memudahkan investor. 

Dengan berbagai produk reksadana baru yang sudah disiapkan ini, Fajar optimistis Syailendra bisa mencatatkan pertumbuhan dana kelolaan sebesar 5-10% dibandingkan tahun lalu.

Syailendra Balance [ms1] Opportunity Fund,misalnya, mencetak yield 15,88% di periode sama. Mengalahkan benchmark Indeks Reksadana Campuran (IRDCP) dengan yield 8,24%

Dengan kepiawaian meracik dana nasabah, wajar jika dari tahun ke tahun Syailendra Capital bertubi-tubi menggaet berbagai penghargaan. 

Tahun lalu Syailendra meraih The Fastest Growing Fund Manager” & The Outstanding Fund Manager in Millennial Segment” dari ajang CNBC Indonesia Award 2020.

Dari Bareksa KONTAN  [ms2] meraih tiga penghargaan.  Dari Asia Asset Management meraih Best of Best Awards 2020. Terdiri dari  Best Bond Manager , Fintech Innovation in Asset Management  dan CEO of The Year: Fajar R. Hidayat. 

Pada akhir tahun lalu, dana kelolaan Syailendra mencapai Rp 23,43 triliun. Sementara per akhir Februari 2021, dana kelolaan Syailendra tumbuh 4,35% menjadi Rp 24,45 triliun.   Saat ini Syailendra  menguasai 4.15% market share dari seluruh dana kelolaan industri manajer investasi. (RO/E-1)

BERITA TERKAIT